3 Idiots : Chase Excellence Success Will Follow
Ini mungkin film india yang sukses saya tonton hampir 3 jam lebih tanpa mengeluh setelah Kuch Kuch Hota Hai, atau film dengan tema India yang layak tonton setelah Slumdog Millionaire.

3 Idiots merupakan film India paling sukses secara komersil dengan pemasukan sekitar 70 USD setelah 18 hari direlease di seluruh dunia. Hueebattt ya.
Or this could be one of India’s movie that I did watch religiously after Mahabaratha in few decades ago (itu bukan film, sinetron India kali Mas!).
Sepanjang film anda bakalan disuguhin adegan konyol dan komedi cerdas, plus drama mengaharu-biru, gak ketinggalan pula nyanyian dan jogetan India. Walaupun nggak terlalu banyak, jadi yang berharap di film ini bakalan ada adegan Kareena Kapoor dan Amir Kan muter-muter sambil glayutan di pohon kelapa, berharaplah kecewa.
The Emporio Armono
Untuk menyiasati persaingan di pasar global, semenjak rumah mode Armani melakukan tindakan gak-sengaja-liat-logo-garuda-di-google, dan muncullah desain kaos studded eagle keluaran Armani Exchange. Maka saya akan melakukan politik air air hangat untuk melakukan perlawanan terhadap Armani.
Politik air anget..? Maksutnya..?
Err, begini, mungkin lebih gampang dipraktekkan daripada di jelaskan, di rumah ada kompor, atau dispenser, heater mungkin..?
Mengapa politik air hangat?
Karena sesuai dengan musim hujan yang cenderung dingin, dan orang-orang butuh air hangat buat mandi, atau bikin teh anget, ya begitulah, masuk akal kan ya?.
Politik air hangat ini sangat cocok untuk mengantisipasi ACFTA (Asean – China Free Trade Area) yang sudah mulai dicanangkan pemerintah kita. Dengan masuknya produk China yang nantinya akan bersaing dengan produk lokal, air anget sangat diperlukan untuk mencuci botol-botol minuman gelas bekas untuk diproduksi kembali. Oke lupakan politik air hangat ini.
Intinya saya akan melakukan strategi bisnis yang akan bersaing dengan Armani, untuk mengantisipasi terjadinya pencatutan segala bentuk kekayaan intelektual, dan simbol-simbol di negara ini (walaupun kita juga baru peduli setelah ada yang mencatut, dan kaos studded eagle-nya juga keren, tapi kok larang).
Langkah yang harus segera saya ambil adalah,
- Buat Brand Tandingan
Seperti halnya seteru abadi Coca Cola dan Pepsi, McD dan Burger King, Emeron dan Sunsilk, Indomie dan Mie Sedap, Logo dan Bata, Cak Yudi dan Cak Sandi, Ruben dan Olga, ataupun Warung Muslim dan Warung Kita.
Perlu ada merek tandingan yang sepadan dengan Armani, jika secara konstekstual belum bisa, kita siasati dengan nama.
Sama halnya ketika anda beli sepatu converse dengan harga miring, pas dibawa pulang ternyata bukan Converse merek yang terpampang, tapi Convince, atau Canvers. Atau ketika ada abang-abang di pasar yang lagi dikerubutin ibu-ibu karena jualan kolor merek Bilabong dengan harga 10 ribuan, kenapa harus beli di mall yang harganya bisa 20 kali lipat. Itu yang nantinya akan saya terapakan untuk melawan Armani, harga murah, barang mirip.
Jadi saya berniat membuat merek bernama ARMONO, gak lucu sih, tapi cukup catchy, local content-nya dapet, berasa denger nama lurah gitu.
2012 : dibalik Antrian Panjang dan Kontroversi
Isu tentang fenomena akan adanya bencana besar di tahun 2012 turut memberikan kontribusi yang besar terhadap rasa penasaran orang-orang pada film ini. Tapi selebihnya, it’s just another disaster movie, atau bahkan bisa dibilang kumpulan adegan-adegan bencana maha dahsyat dari beberapa film yang digabung jadi satu.

Film ini disutradarai oleh Roland Emmerich, yang notabene merupakan sutradara yang sebelum-nya sukses membuat The Day After Tomorrow, dan sekarang mencoba kembali mengingatkan umat manusia akan sebuah bencana di akhir tahun 2012 dalam sebuah film. Sekali lagi, ini cuman film.
Pahlawan dan Guru Gambar

Dalam beberapa kesempatan saya kadang bingung memilih sosok yang dianggap pahlawan. Mungkin orang secara mudah menyebutkan nama Bung Tomo sebagai sosok yang inspiratif, ataupun Bung Karno sebagai simbol seorang nasionalis yang patut ditiru.
Nah saya, sampai saat ini pun belum ada kagum-kagumnya sama salah satu tokoh pahlawan nasional baik yang sudah lama wafat maupun mereka-mereka yang masih hidup, dan yang saya rasa memang eligible untuk di-pahlawani (dipahlawani…?).
Saya sempet ngefans (beberapa saat) sama SBY, saya rela ngeluarin 30 ribu untuk beli majalah TIMES (yang tipis dan kiwir-kiwir) edisi 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Sebenerya gambar SBY yang nampang dan nyempil di cover depan hanya alasan ke sekian, saya hanya penasaran sama John Legend dan Kate Winslet yang juga masuk dalam daftar.
Big Act, Small Idea
There are two dilemmatic options you can take in your life if you wanna be rich (either die rich, or retired rich), being an employee or establish a company.
First option is numerous choices, most likely everyone wants to be employee, some really want to die for, some other are just going with the flow. After graduate and with all knowledge and skill you’ve got, you’re officially ready to compete with hundreds or even thousands job seeker out there.
You can see the example below, how girls named Yuyun shows up in this picture with big smile, badly need a job.

Second option is less famous than the previous, but if you’re so Tung Desem Waringin, and your hand continuously shaking (I’m just trying to make a description) after taking one day entrepreneur short course, yes you’re the man.
10 Malam Terakhir, Mau Kemana..?

Sempat beberapa hari yang lalu teman saya meng-sms bahwa hendaklah ber I’tikaf di Mesjid pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, biar semenit, atau berapa lamapun, jika niatnya beribadah hitungannya dianggap I’tikaf.
Siapalah yang tidak ingin mendapatkan berkah di malam lailatul Qodar, yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang nggak mau…? Tapi masalahnya saya layak nggak dapet kemuliaan seribu bulan itu.
Oke, sepuluh bulan lah, atau kalau nggak amal-nya lebih besar atau lebih mulia dari ibadah bulan kemarin. Gak terlalu bermuluk-muluk dengan 1000 bulan. Paling tidak ada peningkatan secara kualitatif dalam hal beribadah sebelum bulan puasa dan pada saat puasa.
Ibaratnya undian bank, semakin besar saldo tabungan maka semakin besar pula kesempatan menang. Gimana kita mau dapet All New Camry kalo saldo tabungan cuman 200 ribu, dapet payung canting juga bank bakalan mikir-mikir. Itu juga payungnya bakalan dikasih 3 bulan lagi.
Begitu (mungkin) kalau kita analogikan pantas tidaknyakah kita dapet berkah lailatul qodar pada malam-malam terakhir di bulan puasa ini.
Sepuluh bulan itu jika kita kalkulasikan sama dengan ibadah selama 83,33 tahun, lebih dari usia rata-rata hidup orang normal. Yea, Pak Harto could live longer, he died at 87.





Yang Ikut Prihatin