Mestakung : Fisika, Madura dan Tambak Belakang Rumah

Ada beberapa hal yang membuat saya penasaran dengan film Mestakung ini

  • Lokasi syuting di tambak garam dekat rumah

Jadi saya penasaran dengan apa yang akan ditampikan di layar lebar. Imajinasi saya ngebayangin kincir angin dengan siluet senja, bunga tulip bermekaran dan mbak-mbak sambil membawa keranjang berisi garem, sepatu kayu dan mereka menari bersenandung “ooeelioo..liooo…uuuu, kami datang di Indonesia, empat rasa yang istimewa..”.

Kadang saya suka ngayal kalau rumah saya berada sebuah desa di Netherland.

  • Film Inspirasional berlatarkan Science

Beberapa tahun terakhir pamor siswa Madura, terutama Pamekasan semakin bersinar sejak Berjaya di Olimpiade Fisika Internasional (mau nyebutin itu sekolah saya kok terlalu nyombong gimana gitu). Saya bahkan sempat mengutuk diri sendiri mengapa buku Fisika itu Mudah dan Mekanika Tanpa Kalkulus karangan Yohanes Surya lebih sering saya tenteng kesana kemari daripada dibaca dan dipelajari. Coba kalau…ah sudahlah.

Itu dua hal yang membuat saya harus menyiapkan waktu dan duit buat nonton film local dengan latar belakang budaya Madura dan Fisika ini.

Read more

Tahu Tek Pak Din

Setelah sekian lama tinggal di Surabaya, ada satu signature dish yang menjadi favorit saya. Yaitu tahu tek, atau sebutan lainnya adalah tahu telor.

Konon tahu telor itu adalah tahu tek plus telor. Jadi basically tahu tek adalah campuran bahan-bahan sederhana yang mudah dijumpai dan mengenyangkan, digoreng kemudian dipotong-potong dengan gunting. Nah proses pemotongan ini mengeluarkan bunyi “tek..tek” sehingga, sebutan tahu tek berawal dari situ.

Lah, kalo Tahu Genjrot, Tahu Po, Tahu Pong itu dipotongnya pake apa ya bang, bisa bunyi aneh begitu.

Yo embuh le, la menurutmu?

Disamping bahan-bahan murah meriah dan mudah didapat, seperti tahu, kentang, lontong serta telor dadar yang dicampur dengan potongan tahu. Yang paling penting dan menjadi senjata utama adalah bumbu kacang petisnya. Dan itu tergantung dari kelihaian sang peracik, sosok yang berada dibalik cowek dan ulekan. Bagaimana ia menentukan rasa, berapa siung bawang putih, berapa sendok petis, berapa milliliter air, bahkan berapa rpm kecepatan ulekan hingga pengaturan ritme yang pas. Itu semua saling berkaitan.

Kalau bahan-bahan pelengkap lainnya tidak harus spesifik, semua sama. Kecuali jika Farah Quin yang masak, campuran bahannya agak lebih ribet, bisa-bisa ada jamur, daging wagyu yang disuir-suir, paprika, terong belanda, daun basil, rumput laut dari perairan Siberia atau mungkin cingur dari sapi Australia dengan sedikit potongan daun mint yang dicincang halus dan minyak ikan kod.

Ini tahu tek atau apa sih sebenernya?

Sejauh ini, sepanjang pengetahuan saya tentang per-Tahu-Tek-an, ada seorang penjual tahu tek yang hampir memenuhi teknik racikan bumbu dan tingkat rpm yang pas dalam mengulek. Dia adalah Pak Din.

“Gambar di bawah ini adalah salah satu misi global yang harus tercapai oleh Pak Din, memasyarakatkan Tahu Tek ke pasar dunia”

Di grobaknya tertulis Tahu Tek Pak Din, hampir setiap hari mangkal di samping Giant Mulyosari, di pertigaan, biasanya di bawah tiang listrik depan Greja Mawar Saron.

Saya pertama kali ngincipi tahu tek Pak Din, langsung kesemsem dengan bumbunya. Dibandingnkan dengan penjual tahu tek yang suka lewat di depan kos, harga tahu tek plus telor Pak Din 1000 rupiah lebih mahal. Jadi Pak Din menjual satu porsi Tahu Tek seharga 7000, namun harga segitu cukuplah sepadan.

Read more

Sajak Paska Lebaran

Aku, kamu, terpisah oleh ruang di dunia maya

Tidak pernah bertemu, namun kadang bertegur sapa

Jarang aku berbicara politik, ekonomi dan hal berat lainnya

Bukannya tidak bisa tapi memang otakku tak mampu berpikir jauh kesana

Tapi untungnya, kamu suka

 

Kamu bilang pria pintar itu seksi

Aku pun demikian jika membahas acara di tivi

Amira dan Fitri bisa jadi bahan hinaan tiada henti

Hingga kau tidak bisa membedakan antara suka atau benci

Hari ini aku berjanji mulai menulis lagi

Walaupun hanya sebatas sajak cupu ini

 

Itulah sajak pembuka postingan paska lebaran berjudul AKU MENULIS LAGI. Iya, standard sekali judulnya dan terdengar seperti program tv tentang anak yang habis operasi cantengan di jempol. Isi sajaknya juga seolah blog ini banyak yang baca begitu ya. Sombong banget saya. Tapi tak apalah.

But, how’s life anyway. Mine is great as always.  

Sebelumnya, mau mengucapkan maaf lahir batin, maaf jika selama ini ada yang tidak berkenan dengan apa yang saya tulis di blog. Mudah-mudahan, kedepannya bisa nulis minimal 10 postingan per hari. Atau 10 postingan per minggu, atau perbulan lah, ya sebulan dua kali lah (mulai plin-plan).

Salam syupper dupper yummy

PS : Foto diatas adalah hasil jepretan dari seorang dosen waktu survey di Bangkalan, saya edit-edit biar keliatan mirip hasil foto instagram gitu. Kan lagi ngetren ya..?

Sarjana Oh Sarjana, Alhamdulilah

Beberapa minggu terakhir ini saya menjadi saksi hidup bagaimana seorang pemuda usia matang akan meraih – bahkan menambah- gelar akademisnya. Teman saya, secara resmi dinyatakan lulus ujian sidang tugas akhir, dan tidak lama akan segera merasakan gemerlapnya pesta wisuda.

Iya sih, seharusnya teman saya ini bisa lulus tepat waktu kalau mau. Atau bahkan 3.5 tahun kalau niat bin istiqomah dan rajin minum ginko biloba dan jamu buyung upik. Tapi apa daya, suratan takdir berkata tidak.

Setelah melalui perjuangan puuuaaaanjang selama belasan semester, sebagaimana selayaknya calon wisudawan yang lain. Teman saya memberitakan kabar gembira kepada orang tua di rumah, perihal upacara penyematan gelar Sarjana Teknik yang akan segera dihelat.

Entah mungkin karena lupa atau sang orang tua sudah menganggap si anak sudah lulus kapan tahun karena saking lamanya, maka respon dan ekspresi yang diberikan tidak sesuai yang diharapkan.

Sebuah antiklimaks, yang seharusnya teman saya mendapatkan penghargaan yang lebih layak. Untuk sebuah perjuangan panjang bertahun-tahun, belasan semester ditempuh, mungkin teman saya bisa saja minta didampingi Bupati waktu pesta wisuda nanti. Diarak diiringi reog Ponorogo, dikawal berkompi-kompi petugas polisi.

Tapi karena teman saya ini memang dasarnya rendah hati, nrimo, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan. Ia menganggap bahwa lulus belasan semester sudah digariskan takdirnya oleh Tuhan YME.

Jadi ia menganggap ini merupakan jalan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT. Seperti halnya senetron religi, bahwa di setiap akhir cerita pasti ada hikmah yang bisa diambil. Begitu pula drama perjuangan sampai titik darah penghabisan demi sebuah gelar sarjana. Itu semua sudah digariskan dengan indah untuk teman saya.

Saya sih cuma bisa senyum-senyum pahit. Entah itu benar atau tidak, yang penting saya ikut seneng temen saya akhirnya lulus, dan jadi Sarjana.

Jika difilmkan mungkin kisah teman saya ini akan dikemas apik oleh Hanung Bramantyo, film tentang perjuangan seorang mahasiswa yang berjuang menjadi wisudawan. Atau jika Christohper Nolan yang bikin, maka film ini nantinya akan dikemas dengan sangat rumit, macem Inception, banyak flasback, banyak konflik, pokoknya intinya film gak nyantai lah.

Karena sebelum maju buat sidang, cobaan demi cobaan mulai berdatangan. Shireen Sungkar yang bolak-balik suka mendapat ujian dan jarang sekali keliatan beruntung di dalam sinetron, mungkin kalah dengan teman saya.

Read more

BB Attact (Lagi)

Beberapa waktu silam sempat saya menulis sesuatu tentang sebuah handset yang mungkin harus jadi barang wajib di abad ini. Sebuah gadget keluaran RIM yang sempat membuat hidup saya tidak tenang.

Tidak tenang, ketika waktu itu saya merupakan salah satu dari sekian kecil orang di tempat kerja yang tidak memakai Blackberry. Dan masih tidak tenang, ketika saya akhirnya benar-benar memiliki benda idaman (should I cal it Idaman?) jutaan umat ini.

Beberapa bulan setelah tulisan saya tentang Blackberry dipost di blog, dan kemudian menyusullah banyak simpati, empati, cemooh dan umpatan dari berbagai pihak (yang gak perduli dan masa bodoh lebih banyak lagi). Finally, at that next following months, I was being a commoner. Saya resmi punya blackberry dan secara ajaib menjadi pekerja kantoran yang tidak pernah lepas dari Blackberry. Cihuy lah pokoknya.

Saya berubah bahagia, tidak juga. Saya secara resmi menjadi konsumen RIM ketika muncul berita panas mengenai pembatasan layanan terhadap akses Blackberry service. Isu konyol yang sempat muncul adalah, BBM bakalan gak akan berfungsi, RIM gak punya ijin resmi di Indonesia, BB bakalan ditarik dari pasar, BBM-an sambil bengong bakalan bikin ayam tetangga mati, BeBe Haram bla-bla-bla.

Tentu berita simpang siur ini seolah tidak adil. Karena saya merasa dipermainkan oleh system (ciee..sistem). Ketika semua orang menganggap blackberry adalah benda yang bisa bikin ganteng, karisma bertambah dan jodoh makin lancar. Saya waktu itu hanya bisa menjadi anak desa cupu di tengah warga metropolis dengan BB di tangan.

Dan ketika saya akhirnya nyerah dan punya BB, saya masih tetap menjadi anak desa yang cupu namun sedikit gaya karena dari kejauhan terlihat menunduk dan asyik dengan blackberry. Gaya, dan norak kadang hanya dibatasi oleh selembar kelambu tipis. Dan ke-gaya-an saya hanya berlangsung seminggu, karena setelahnya mungkin orangt-orang sudah tidak menggunakan BB lagi terkait isu sialan tersebut.

Minggu pertama ketika BB dengan seri sejuta umat sudah dalam genggaman (BB dengan casing plastik ), saya masih dibuat pusing dengan kondisi BB yang suka rewel. Tiba-tiba hangat, tiba-tiba kedip-kedip padahal gak muncul notofikasi, tiba-tiba mati, batere cepet habis, dan 1001 keajaiban lainyya yang bikin saya senewen.

Ketika saya merasa heran si BB tiba-tiba hangat sampai terasa di kulit paha, saya pun mengeluarkan pertanyaan dengan nada khawatir.

Saya : “BB ku kok anget..?”

Teman 1 : “Rusak paling..”.

Teman yang BB nya bolak balik rusak menjawab dengan enteng.

Teman 2 : “Tuh,kan. Ngapain beli BB, aku sih ogah”.

Teman 2 yang dulu antipati dengan BB ikut berkomentar.  FYI, teman saya yang dulunya apatis terhadap keberadaan BB dan sekarang sejak pakai BB, beliau paling aktif di group, sering update status, dan ganti gambar profil.

Teman 3 : “Loro paling,..kene..kene…tak gendonge”

Dan yang terakhir adalah jawaban absurd dan tidak memberikan solusi dari seorang teman kantor wanita. Mungkin BB saya bakalan dia kasih ASI.

Belum lagi ketika saya terlalu memperlakukan si BeBe dengan amat sangat berlebihan. Padahal juga harganya gak seberapa (lah kok sombong). Saya belum pernah se insecure ini ketika kemana-mana harus membawa gadget yang tiba-tiba suka hangat di kantong celana.

Read more

Madeo & Die Fremde : Tentang Ibu, Tentang Perempuan

Hubungan Ibu dan anak spertinya sudah sering diangkat menjadi tema sebuah film. Beberapa film yang sempat saya tonton menampilkan karakter kuat seorang Ibu.

Angelina Jolie mati-matian mencari tahu perihal keberadaan anaknya yang hilang dalam film Changeling. Atau Ayu Azhari yang berusaha untuk mendapatkan hak asuh anak dalam Noktah Merah Perkawinan, dan Noktah Perkawinan 2.

Walaupun yang terakhir dalam bentuk senetron, tapi keberadaan Ayu Azhari – di luar kasus yang sering menimpa keluarganya – cukup mengaduk-ngaduk emosi seisi rumah kala itu.

Jadi ceritanya nih, saya lagi (emang) gak ada kerjaan selain nonton film. Dan setelah nonton beberapa film komedi romantis dari Thailand, maka saya pindah ke kawasan Asia dan Eropa. Ada dua film yang bakalan saya review, anggap saja cuman sekedar share, saya sih gak ahli kalau ngereview film. Jangan dimasukin di hati.

Silahkan disimak kakak

Madeo ( Mother) 

Kali ini saya mencoba untuk menonton film Asia, yaitu sebuah film Korea berjudul Madheo (Mother) disutradarai oleh Bon Joon Ho. Pada tahun 2009, Madeo mewakili Korea Selatan sebagai official selection di perhelatan Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film.

Dengan menonton film ini secara tidak langsung saya juga turut memeriahkan euphoria gejolak kawula muda tentang berbagai hal yang berbau Korea.

Appahh? gak tau apa itu SUJU..? Bonamanamanadimana gak ngerti juga ? *Mendadak ELF*

Secara gari besar Madeo menceritakan hubungan seorang Ibu (yang gak disebutin siapa namanya) dengan seorang anak laki-laki semata wayangnya. Si anak yang bernama Do Joon adalah anak laki-laki yang sedikit mengalami gangguan mental.

Si Ibu bekerja sebagai seorang akupuntur dan membuka toko herbal. Sementara si anak laki-lakinya itu kerjaan sehari-hari keluyuran sama temennya yang bernama Jin Tae, dan kadang-kadang pulang dalam kondisi mabok.

Read more

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.