Pernahkan anda dikomentari oleh seseorang bahwa wajah anda tidak terlihat Jawani, ataupun tidak terlalu Mbatak, walaupun anda mengenalkan diri sebagai seorang Jawa ataupun Batak. Jika ya, apa yang akan anda lakukan?
- Cuek saja, karena anda cuma numpang lahir disana
- Mencak-mencak karena anda memang asli dari sana
- Buru-buru cek akte kelahiran, lurah dan bidan setempat, ataupun panti asuhan terdekat kalau-kalau anda memang muncul dari sebuah timun suri yang gak sengaja dibelah dan ditemukan oleh petani Batak atau Jawa.
Nah, saya sebagai seorang yang terlahir dari perpaduan ras unggul, antara Jawa dan Madura. Saya lebih mengakui bahwa saya adalah seorang Madurawan. Kenapa pasal, karena oh karena, jika dibandingkan bahasa Jawa Kromo saya masih lebih buruk dikit daripada Bahasa Halus Madura saya yang memang sudah tidak terlalu baik. Maka saya lebih nyaman berada di posisi saya seorang MADURAWAN, Itu yang pertama, dan yang kedua saya lebih lama tinggal di Madura daripada di Jawa. Jadi saya lebih mengenal medan Madura (walaupun gak dijamin juga) daripada saya dilepas di depan Bungurasih trus disuruh naik angkot buat pulang.
Akan tetapi hal itu ternyata tidak memberikan dampak berarti bagi saya bahwa orang cenderung menilai dari sebuah struktur fisiologis yang khusus dan nampak dari seorang Madurawan, yang saya juga nggak tau apa itu. Kalau saya dari Ambon, ataupun Papua mungkin secara kasat mata saya bisa tau, nah ini orang Madura sama Jawa lho, apa bedanya coba. Kalau mungkin secara logat orang masih bisa menilai mana orang Madura mana yang bukan. Tapi mas, jaman sekarang MTV udah masuk di kampung, kursus bahasa Inggris udah dimana-mana, dan kita sudah jarang makan nasi jagung.
Lanjutkan membaca ‘Is it a Stereotyping?’








Yang Ikut Prihatin