Arsip untuk Mei 1st, 2008

01
Mei
08

Guruku, Guruku

Dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional, maka sudah sepantasnyalah saya memberikan penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa yang tak lain tak bukan adalah seorang yang bernama guru. Walaupun cita-cita saya kelak bukan menjadi seorang guru, tapi paling tidak saya punya pengalaman dalam hal mengajar, walaupun itu hanya privat, dan lebih tampak seperti curhat sambil belajar yang diselingi obrolan seputar musik, film, makanan, baju, tips kesahatan dan etika pergaulan (maklmum buku pegangan mengajar saya tabloid NOVA). Namun profesi guru ini tidak pernah sepi peminat dan bahkan cenderung semakin banyak, mungkin idealnya jumlah guru di Indonesia harus banyak ya, paling tidak satu banding sepuluh (satu guru membimbing sepuluh siswa) itu baru ideal. Akan tetapi hal tersebut juga berdampak pada tingkat kesejahteraan guru, terutama para guru honorer yang belum menyandang gelar PNS, banyak guru yang sudah mengabdi puluhan tahun tapi belum diangkat jadi PNS, belum lagi proses pengangkatan guru sekarang terbilang sulit, sulit dalam artian bahwa ya memang persaingannya ketat, bukan masalah ada oknum yang kongkalikong dalam proses pengangkatan CPNS tersebut (ya, kalo itu wallahu alam). Wehh, ini anda tidak sedang membaca kolom editorial kompas edisi guru ya, masih diblog yang sama dengan si empunya yang sama.

Ya sudah, biarlah dalam keluarga saya cukup Ibu saya saja yang jadi guru, paling tidak cap bahwa anak guru itu pintar, cerdas, berprestasi dan percaya diri sedikit terbukti. Membahas masalah praktek per-guru-an dan segala macam rupanya, saya punya banyak pengalaman pahit dengan guru-guru terutama SMA dan terakhir masa perkuliahan (dosen itu guru bukan sih..?apa karena cuma beda tempat sama title saja..?). Entah kenapa saya selalu bermasalah dengan guru wanita, Ibu guru lebih tepatnya, dan saya merasa Ibu guru itu lebih bikin sport jantung, dan panik mendadak dari pada Bapak guru. Terlepas bahwa Ibu guru adalah salah seorang guru yang menyenangkan menurut saya, lebih banyak ngobrolnya, dan saya cocok dengan metode pembelajaran BELAJAR SAMBIL MENGOBROL, kayak cepet nangkep gitu (obrolannya yang cepet ditangkep, materinya entahlah). Sepertinya metode ini tidak gampang bikin jenuh penghuni kelas, karena sifat alamiah seorang wanita adalah seorang pengobrol yang baik, maka tidak heran dari satu setengah jam pelajaran, 45 menit diisi dengan obrolan yang berkaitan dengan materi, 30 menit kurang adalah materi, dan sisanya adalah obrolan ringan seputar kehidupan pribadi beliau. Kayak, harga bawang di pasar induk, seputar Betty La Fea, seputar pembantu dirumah, sang anak yang pintar nan membanggakan, serta mungkin hal yang tidak terlalu signifikan dibawa ke kelas yaitu menggosipkan guru laen (Ini bukan Ibu Guru Matsuzaka di kelas Matahari ya).

Nah beberapa pengalaman yang cukup thrilling berikut masih berkenaan dengan Ibu-Ibu guru saya yang amat sangat saya hormati itu.

Lanjutkan membaca ‘Guruku, Guruku’

01
Mei
08

Movie Review : Memento and City of God

Kali ini saya akan mencoba mereview beberapa judul film yang baru-baru ini saya tonton. Sebenernya bukan film baru, tapi saya pikir dua film ini cukup worthy to watch. Film yang saya dapet dari koleksi-nya Sanyoto, salah satu teman saya yang punya selera film yang cukup bagus (heee..), and these two movies are awesome.

Memento

Film yang disutradari Christoper Nolan (Imsomnia, Batman Begins dsb), merupakan adaptasi dari cerita pendek buatan sodaranya Jonathan Nolan yang berjudul Memento Mori. Dibintangi oleh Guy Pearce, yang sempet awalnya ditawarkan ke Brat Pitt, tapi gak jadi karena terhambat masalah schedule serta minimnya budget untuk membayar honor seorang actor kategori A.

Yang bikin saya menganga adalah alur ceritanya yang unik, harus disimak baik-baik, saya nonton pertama kali aja, masih tanya ke Sanyoto, “Tok, yang bunuh istrine jadine sopo?”. Tapi itu hanyalah permainan kronologis scene per scene-nya saja, tapi buat ukuran seorang saya yang nonton The Simpson Movie harus dua kali baru ngerti, itu menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Cerita yang sebenernya menurut saya beralur mundur, maju dikit, mundur lagi itu menceritakan sosok Leonard Shelby, seorang mantan agen asuransi, yang menembak seseorang yang ia anggap pembunuh sang istri. Leonard sendiri menderita anterograde amnesia , sebuah penyakit yang ia derita setelah tragedy pemerkosaan dan pembunuhan sang istri. Leonard gak bisa mengingat hal-hal baru yang baru ia alami, semuanya langsung lupa, baru kenalan sama orang beberapa menit kemudian ia lupa. Maka jalan satu-satu adalah merekam segala sesuatunya dalam sebuah catatan, mulai dari photo Polaroid, hingga bikin tato di badan yang berisi semua record yang berhubungan dengan pelaku pembunuhan sang istri.

Scene pertama ditampilkan Leonard (Guy Pearce) menembak Teddy seorang yang akhirnya diketahui sebagai polisi dan karena Lenny menganggap bahwa Tedyy lah yang membenuh sang istri maka aksi penembakan terhadap Tedy menjadi awal cerita. Kemudian alur kembali mundur dengan menampilkan awal cerita sebelum Lenny (Leonard) membunuh Teddy. Kemudian scene berlanjut dengan dua versi, grayscale dan coloured, grayscale merupakan tampilan narrative ketika Lenny melakukan percakapan melalui telpon dengan orang yang tidak dikenal di sebuah motel tempat dia menginap. Sementara coloured scene menampilkan cerita kronologis secara mundur, like what I’ved said lil bit confusing at first, maju, mundur dikit, maju dikit lagi, yang punya migrant tidak disarankan nonton film ini. Daripada di tengah-tengah film anda mimisan.

Tapi itu yang membuat film ini seru dan menarik, hingga akhirnya kita tahu awal mula kenapa si Lenny tinggal di Discount Inn, tak lain tak bukan adalah saran dari si Teddy. Dan berikut mobil serta pakaian yang lenny pakai, adalah baju pengedar narkoba yang ia bunuh di sebuah gudang, tapi karena si Lenny tidak bisa menyimpan memory baru, harus insert new disk, maka semuanya jadi sebuah cerita baru bagi Lenny. Dan sampai akhirnya ia ngobrol ngalor ngidul dengan seorang penelpon di kamar motelnya, menceritakan seorang bernama Sammy Jankis yang juga menderita penyakit yang sama dengan Lenny.

Lanjutkan membaca ‘Movie Review : Memento and City of God’




Smile

Cartoon of me

Disclaimer

Blog ini ditulis dengan penuh kepolosan, kesantunan, tidak ada hate speech, tidak ada unsur sara (suku, ras, Agama, akademik (nilai kuliah, IPK dan sebagainya), dan tanpa mewakili suatu partai politik ataupun ormas terstentu. Blog ini adalah personal blog yang isinya gak terlalu penting (ya kalau ada yang penting itu bonus buat anda). Saya masih belajar, dan terus akan belajar, karena dalam Hadist juga disebutkan, belajarlah sampai ke negeri China. Bahkan footer buku sinar dunia selalu ada. Blog ini juga tidak menyediakan download lagu-lagu gratis, ataupun video mpeg,3Gp dan lain sebagainya. Jadi bagi anda yang kecewa karena gak sengaja nge-klik, tau nge-link ke sini ya mohon maaf. Jadi selamat menikmati, sajian sederhana dari saya. Just Feel like Home

A Random Holy Verse

Yang Nyasar

  • 27,026 Orang

Hari-hari penuh ide

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

My Bloglog