Dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional, maka sudah sepantasnyalah saya memberikan penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa yang tak lain tak bukan adalah seorang yang bernama guru. Walaupun cita-cita saya kelak bukan menjadi seorang guru, tapi paling tidak saya punya pengalaman dalam hal mengajar, walaupun itu hanya privat, dan lebih tampak seperti curhat sambil belajar yang diselingi obrolan seputar musik, film, makanan, baju, tips kesahatan dan etika pergaulan (maklmum buku pegangan mengajar saya tabloid NOVA). Namun profesi guru ini tidak pernah sepi peminat dan bahkan cenderung semakin banyak, mungkin idealnya jumlah guru di Indonesia harus banyak ya, paling tidak satu banding sepuluh (satu guru membimbing sepuluh siswa) itu baru ideal. Akan tetapi hal tersebut juga berdampak pada tingkat kesejahteraan guru, terutama para guru honorer yang belum menyandang gelar PNS, banyak guru yang sudah mengabdi puluhan tahun tapi belum diangkat jadi PNS, belum lagi proses pengangkatan guru sekarang terbilang sulit, sulit dalam artian bahwa ya memang persaingannya ketat, bukan masalah ada oknum yang kongkalikong dalam proses pengangkatan CPNS tersebut (ya, kalo itu wallahu alam). Wehh, ini anda tidak sedang membaca kolom editorial kompas edisi guru ya, masih diblog yang sama dengan si empunya yang sama.
Ya sudah, biarlah dalam keluarga saya cukup Ibu saya saja yang jadi guru, paling tidak cap bahwa anak guru itu pintar, cerdas, berprestasi dan percaya diri sedikit terbukti. Membahas masalah praktek per-guru-an dan segala macam rupanya, saya punya banyak pengalaman pahit dengan guru-guru terutama SMA dan terakhir masa perkuliahan (dosen itu guru bukan sih..?apa karena cuma beda tempat sama title saja..?). Entah kenapa saya selalu bermasalah dengan guru wanita, Ibu guru lebih tepatnya, dan saya merasa Ibu guru itu lebih bikin sport jantung, dan panik mendadak dari pada Bapak guru. Terlepas bahwa Ibu guru adalah salah seorang guru yang menyenangkan menurut saya, lebih banyak ngobrolnya, dan saya cocok dengan metode pembelajaran BELAJAR SAMBIL MENGOBROL, kayak cepet nangkep gitu (obrolannya yang cepet ditangkep, materinya entahlah). Sepertinya metode ini tidak gampang bikin jenuh penghuni kelas, karena sifat alamiah seorang wanita adalah seorang pengobrol yang baik, maka tidak heran dari satu setengah jam pelajaran, 45 menit diisi dengan obrolan yang berkaitan dengan materi, 30 menit kurang adalah materi, dan sisanya adalah obrolan ringan seputar kehidupan pribadi beliau. Kayak, harga bawang di pasar induk, seputar Betty La Fea, seputar pembantu dirumah, sang anak yang pintar nan membanggakan, serta mungkin hal yang tidak terlalu signifikan dibawa ke kelas yaitu menggosipkan guru laen (Ini bukan Ibu Guru Matsuzaka di kelas Matahari ya).
Nah beberapa pengalaman yang cukup thrilling berikut masih berkenaan dengan Ibu-Ibu guru saya yang amat sangat saya hormati itu.







Yang Ikut Prihatin