Movie Review : Memento and City of God

Kali ini saya akan mencoba mereview beberapa judul film yang baru-baru ini saya tonton. Sebenernya bukan film baru, tapi saya pikir dua film ini cukup worthy to watch. Film yang saya dapet dari koleksi-nya Sanyoto, salah satu teman saya yang punya selera film yang cukup bagus (heee..), and these two movies are awesome.

Memento

Film yang disutradari Christoper Nolan (Imsomnia, Batman Begins dsb), merupakan adaptasi dari cerita pendek buatan sodaranya Jonathan Nolan yang berjudul Memento Mori. Dibintangi oleh Guy Pearce, yang sempet awalnya ditawarkan ke Brat Pitt, tapi gak jadi karena terhambat masalah schedule serta minimnya budget untuk membayar honor seorang actor kategori A.

Yang bikin saya menganga adalah alur ceritanya yang unik, harus disimak baik-baik, saya nonton pertama kali aja, masih tanya ke Sanyoto, “Tok, yang bunuh istrine jadine sopo?”. Tapi itu hanyalah permainan kronologis scene per scene-nya saja, tapi buat ukuran seorang saya yang nonton The Simpson Movie harus dua kali baru ngerti, itu menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Cerita yang sebenernya menurut saya beralur mundur, maju dikit, mundur lagi itu menceritakan sosok Leonard Shelby, seorang mantan agen asuransi, yang menembak seseorang yang ia anggap pembunuh sang istri. Leonard sendiri menderita anterograde amnesia , sebuah penyakit yang ia derita setelah tragedy pemerkosaan dan pembunuhan sang istri. Leonard gak bisa mengingat hal-hal baru yang baru ia alami, semuanya langsung lupa, baru kenalan sama orang beberapa menit kemudian ia lupa. Maka jalan satu-satu adalah merekam segala sesuatunya dalam sebuah catatan, mulai dari photo Polaroid, hingga bikin tato di badan yang berisi semua record yang berhubungan dengan pelaku pembunuhan sang istri.

Scene pertama ditampilkan Leonard (Guy Pearce) menembak Teddy seorang yang akhirnya diketahui sebagai polisi dan karena Lenny menganggap bahwa Tedyy lah yang membenuh sang istri maka aksi penembakan terhadap Tedy menjadi awal cerita. Kemudian alur kembali mundur dengan menampilkan awal cerita sebelum Lenny (Leonard) membunuh Teddy. Kemudian scene berlanjut dengan dua versi, grayscale dan coloured, grayscale merupakan tampilan narrative ketika Lenny melakukan percakapan melalui telpon dengan orang yang tidak dikenal di sebuah motel tempat dia menginap. Sementara coloured scene menampilkan cerita kronologis secara mundur, like what I’ved said lil bit confusing at first, maju, mundur dikit, maju dikit lagi, yang punya migrant tidak disarankan nonton film ini. Daripada di tengah-tengah film anda mimisan.

Tapi itu yang membuat film ini seru dan menarik, hingga akhirnya kita tahu awal mula kenapa si Lenny tinggal di Discount Inn, tak lain tak bukan adalah saran dari si Teddy. Dan berikut mobil serta pakaian yang lenny pakai, adalah baju pengedar narkoba yang ia bunuh di sebuah gudang, tapi karena si Lenny tidak bisa menyimpan memory baru, harus insert new disk, maka semuanya jadi sebuah cerita baru bagi Lenny. Dan sampai akhirnya ia ngobrol ngalor ngidul dengan seorang penelpon di kamar motelnya, menceritakan seorang bernama Sammy Jankis yang juga menderita penyakit yang sama dengan Lenny.

Semua scene harus dicermati satu persatu karena satu scene relate ke scene yang anda liat sebelum-sebelumnya. Termasuk ketika kenapa akhirnya si Lenny membunuh Teddy, padahal Teddy adalah polisi yang sempat membantu kasus pembunuhan istrinya, dan itu sudah lama diselesaikan, sudah setahun lalu, tapi ya itu tadi karena anterograde amnesia tadi si Lenny tetep nyari pemerkosa dan pembunuhan istrinya. Yang akhirnya membunuh Jimmy Grants, yang seorang drug dealers, yang memang diincar oleh Teddy. Selesai dibunuh, mobil berikut pakain Jimmy diambil Teddy, dan karena lagi-lagi suka lupa, ia ngira pesen yang ada di kantong pakaian si Jimmy adalah miliknya, dan itulah awal ketemu dengan dengan Nathalie (yang maen, yang jadi Trinity di Matrix), pacar Jimmy. Dan pertemuan dengan Nathalie ini yang akhirnya menjadi cerita awal, kenapa si Teddy yang dibunuh oleh Lenny.

Film ini sempet masuk nominasi Oscar untuk kategori Original Screenplay dan Editing, acting Guy Pearce juga keren (hayyah, sok ngerti), dan Rotten Tomatoes ngasih rating 94%, dan masuk ke dalam 100 film terbaik sepanjang sejarah.

City Of God

Second movie that I highly recommended is City of God atau Cidade de Deus. Sebuah film asing dari Brasil, masuk nominasi Oscar tahun 2004 untuk kategori Best Cinematography (César Charlone), Best Directing (Meirelles), Best Editing (Daniel Rezende) dan Best Writing (Adapted Screenplay) (Mantovani).

Mungkin actor-aktor di film ini masih asing buat kita, ya iyalah, secara film Brasil gituloh dan konon pemainnya rata-rata diambil dari penduduk local setempat. Hanya satu yang bener-bener actor, pemeran utama dan pendukung semuanya belum pernah main film.

Lagi-lagi sebuah plot cerita yang beralur mundur (kenapa..kenapa, kenapa harus pusing-pusing dulu kalo nonton pilm bagus). Tapi tidak serumit Memento, tapi lebih kepada cerita beberapa tahun sebelum adegan awal terjadi.

Kalo saya pribadi ini adalah film remaja, anak-anak juga, yang masya Allah gak ada remaja-remajanya blas, apalagi anak-anaknya. It’s mostly about roughness of life, gangster, and how personal revenge become local war. Dan yang menjadi nilai plus di fim ini adalah, based on true event, kisah nyata yang diangkat dalam sebuah film, saya suka film-film jenis ini, kecuali film tentang Sumanto.

Setting cerita di sebuah tempat di Rio De Jenero, sebuah tempat yang bernama City of God, tempat pemukiman penduduk kelas bawah. Cerita berawal dari narasi tokoh yang bernama Rocket, yang awal cerita memiliki seorang kakak yang dikenal sebagai salah satu preman yang tergabung ke dalam trio entah apa itu namanya. Dan akhirnya pada suatu ketika melakukan aksi perampokan di sebuah hotel, tapi ketiganya berjanji hanya mengambil uang saja tanpa ada korban nyawa. But then, polisi memburu ketiganya karena terjadi serangkaian pembunuhan disana. Yang jadi pelakunya adalah seorang anak kecil yang sama trio itu diajakin untuk jaga-jaga diluar sementara ketiganya ngerampok, tapi lah dalah malah jedar-jeder nembakin orang-orang di hotel, karena sebelumnya anak kecil itu dititipin pistol dan ditembakkan ke jendela kalo ada polisi.

If you wanna see how cruel those kids with their gun, you’d better watch this movie. Pemandangan anak-anak kecil yang hidup di lingkungan yang keras, anak kecil yang sudah kenal senjata bahkan membunuh sekalipun.

Dan cerita maju beberapa tahun kemudian, dan anak kecil yang membunuh oarng-orang di hotel, akhirnya menjelma menjadi seorang pemimpin gang, bernama Ze. Dan Rocket secara tidak sadar menjadi saksi dalam tiap pertikaian dan konflik yang terjadi. Ze yang ternyata juga membunuh kakak Rocket akhirnya terlibat pertikaian antar gang, ya itu tadi, personal revenge yang akhirnya melebar jadi perang antar gang. Ze sendiri punya temen bernama Benny dan berusaha mebangun bisnis narkoba dan tidak segan-segan membunuh para pesainngya. Sasaran utamanya adalah gang-nya Redhead atau Carrot, yang menjadi aliansi bagi Ned yang mencoba bales dendam ke Ze karena telah membunuh keluarga dan menodai (bahasane) sang pacar.

Selama sejam lebih anda akan disguhi oleh aksi tembak menembak yang kayak sudah biasa terjadi . Scene yang yang mebuat saya meringis adalah ketika sekelompok anak kecil yang notabene adalah kelompok gang Redhead, rame-rame ngerampok toko roti. Dan sang pemilik toko ngadulah ke Ze, dan Ze nyamperin-lah si anak-anak bengal tadi. Dan tinggal satu anak kecil sama satu agak gedean, ditanya mau ditembak bagian mana,tangan atau kaki?. Nah disitulah kepolosan anak kecil muncul, seorang anak kecil tetaplah anak kecil yang bakalan nangis kalo takut akan sesuatu. Dan mereka akhirnya milih tangan tetap dengan nangis sesenggukan, trus si Ze main nembak aja gitu, bukan tangan tapi kaki kedua anak tadi. Dan satu anak kecil yang ikut gerombolan gang-nya Ze, diminta untuk ngebunuh salah satu dari dua anak yang sudah ditembak kakinya tadi, and you know what? eventually he did gun down one of those kids.

Film yang awalnya sempet ragu saya tonton, tapi finally it’s really fascinating. Salah satu film yang worth watching menurut saya, bahkan Rotten Toamtoes ngasih rank 98% untuk film ini. Dan juga termasuk ke dalam 100 film terbaik dalam sepanjang masa.

Hahh, saya sudah nonton dua film keren dari Sanyoto, besok pinjem Pocong 3 ahhhh.

  1. kapan aku mbok traktir nonton Guuuh…? aku emoh nek dipidi tapi…

  2. filmnya seru seru hoooo

  3. males ahh..

  4. @chiw : iyo, tak traktir layar tancep film-film Eva Arnas mau..tah wik..?

    @papabonbon : iya Mas seruu..hee

    @misaoeraliche : kenapa beda selera ya mbak..?

    • mayakho
    • Oktober 8th, 2010

    Tengkyu buat review mementonya. Nice caps.
    Tapi POCONG 3? ughh,,tiba2 jadi ragu memento&CoG bagus(–,

  1. Januari 29th, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: