Sebenernya postingan kali ini tersentil karena saya baca artikel di Wallstreet Journal (saya kadang-kadang keren ya baca’annya) tentang perilaku para penumpang pesawat terbang yang tidak sesuai dengan tata krama. Ibaratnya gak ada bedanya sama penumpang bus Akas jurusan Kalianget-Banyuwangi yang tanpa AC itu. Satu kalimat yang cukup membuat saya berpikir adalah di sub judulnya “Mess in seat pocket, rudeness proliferate; the revenge motive”.
Nah yang the revenge motive ini tampaknya yang perlu disimak lebih lanjut. Setelah saya baca artikel-nya seribu kali baru ngerti, adanya motif balas dendam itu merupakan suatu bentuk komplain yang ditujukan atas pelayanan buruk suatu layanan jasa, dalam hal ini penerbangan.
Berhubung saya kalau pulang kampung gak perlu heboh-heboh naik pesawat ataupun jet pribadi, dan pengalaman terbang saya masih sangat minim, jadi masih belum sempet merogoh kantong belakang tempat duduk pesawat (saya memilih memperbanyak dzikir daripada tangan ngeraba-raba kantong belakang tempat duduk pesawat). Dan mungkin hal kecil yang agak berbau vandalisme ataupun pengrusakan fasilitas umum yang mengarah kepada timbulnya suatu ketidak nyamanan pada orang lain, ataupun pihak penyedia jasa, bisa jadi maklum bagi sebagian orang. Dulu pas jaman-jaman kampus ada M-Web, pas waktu semester awal, saya sempet meluangkan waktu di warnet terbesar di daerah ITS itu untuk browsing, nyari journal, check email, ngeliat pergerakan saham (padahal friendsteran hee) atau sekedar chatingan sama temen saya yang ada di bilik belakang (maklum anak kampung). Dan tak jarang saya jumpai di beberapa monitor entah tulisan berbau protes ataupun pesan berantai seperti ,
“Internete Lemmoott”
“Komputere Lemot C****k”
Ataupun tulisan vintage macam
“Didik was here”
“Samidin Love Ratmi”
Mungkin yang protes komputer atau internet lemot dengan nulis di monitor bisa dianggap sebagai bentuk protes, tapi kenapa harus sampai segitunya. Kenapa tidak langsung komplain ke pihak yang berwenang (dalam hal ini kalo M-Web ada Mbak berkacamata, sama Mas kumisan mungkin bukan Kapolsek Sukolilo), daripada harus ngerusak barang orang, toh kalaupun fasilitas maupun layanan yang disediakan suatu penyedia jasa kurang memuaskan lama-lama juga akan ditinggal sama pelanggan. Dan apa pula gunanya Customer Care atau semacamnya, mungkin untuk jasa skala warnet layanan custumer care belum tersedia dengan secara ekplisit, belum ada call center yang bisa diajakin curhat dan dimaki-maki buat komplain. Sedangkan untuk sekelas jasa penerbangan bukannya sudah ada.
Untuk bus Akas yang biasa saya tumpangi juga saya gak tau harus kemana kalau komplain, tapi gak sedikit juga yang nyorat-nyoret jok kursi penumpang dengan tulisan “Bise Lemmott”, saya kira kalau dilihat dari siapa pelakunya, yang jelas ia berpendidikan, kenapa;
1. Bawa bolpen kemana-mana
Gak mungkin tukang sayur atau penjual daging bawa bolpen yang selalu siap sedia, kalau saya liat di jok ada banyak bekas sayatan benda tajam sama tulisan dari darah itu lain cerita. Tapi paling tidak pelaku berpendidikan minimal SMU ke atas, atau kerjaan mahasiswa yang suka mudik tiap minggu.
2.Dari susunan kata
“Bise lemoot” adalah suatu bahasa slang yang lebih pas diucapkan oleh para muda, bukan bapak-bapak tentara, ataupun pedagang kaen yang habis kulakan.
3.Ngerti mahalnya waktu
Mungkin lebih tepatnya, suka keburu-buru, suka mepet-mepet ngeset waktu. Kalo tulisannya “Bise Lemot” mungkin pelaku adalah mahasiswa yang pengen buru-buru nyampe rumah atau tempat kos, dikarenakan suatu hal, tugas belum kelar, besok dikumpulin, atau nun jauh disana pacar sudah nungguin.
Tapi untuk ukuran bus antar kota dalam propinsi, yang namanya bus AKAS non AC kan ya harus nyari penumpang, emang mau sopir ngebut-ngebut dijalan, mau cepet nyampe tapi bus udah separoh, mau cepet ya silahkan naik pesawat itupun jika bandara di kabupaten anda sudah masuk di jalur penerbangan komersil.
Banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan suatu tindakan pengrusakan suatu fasillitas umum maupun layanan jasa, bahkan yang lebih parah adanya pelumpuhan terhadap suatu fasilitas. Ada istilah yang namanya Ekoterorisme (Ecoterorism), suatu bentuk protes yang dilakukan terhadap suatu fasilitas dengan melakukan pengrusakan, blockade, sabotase ataupun pelumpuhan karena adanya fasilitas tersebut telah mengganggu kondisi alam sekitar. Dan dampak negatifnya juga telah dirasakan oleh masyarakat. Untuk ecoterorism ini sendiri tingkatannya sudah lebih parah, seolah tindakan pengrusakan secara paksa telah terjustifikasi dalam rangka penyelamatan lingkungan dan ekosistem. Dan di Amerika sendiri ada beberapa kelompok yang diincar oleh pihak FBI sehubungan pengrusakan yang telah menyebabkan banyak kerugian walaupun atas dasar penyelamatan lingkungan dan ekosistem. Tapi karena jutaan dolar hilang akibat pengrusakan tersebut, kayak penelitian yang digagalkan, peralatan yang dirusak dan sebagainya. Mungkin ibarat cuma mau nyelamatin kelinci yang jadi percobaan, sampe harus ngebakar gudang dan rumah. Apakah hal ini sama jika kita protes atau komplain atas layanan sebuah jasa.
Jadi intinya, kalau misal anda menjumpai fasilitas umum, atau anda menggunakan layanan jasa dan ada suatu ketidakpuasan, apa cara yang anda lakukan sebagai bentuk protes.
Kalo saya, warnet satu gak beres, ya sudah, jangan harap saya kembali, kalo bus Akas yang saya tumpangi lelet kayak siput, ya ditinggal tidur aja, daripada jalan kaki.






Yang Ikut Prihatin