07
Jun
08

Susahnya Jadi Idola

Postingan kali ini agak sedikit “berat”, butuh pemikiran matang namun bijak. Saya akan mencoba membahas suatu masalah yang saya pikir perlu dan penting untuk dibahas.

Masalah yang juga menyangkut hajat hidup orang banyak, masalah yang melibatkan jutaan penduduk Indonesia. Masalah yang jika dibiarkan begitu saja, dampak negatifnya akan sama halnya dengan membiarkan Saiful Jamil melaju menjadi calon wakil bupati Serang.

Mungkin tidak harus seheboh reaksi penolakan kenaikan BBM ataupun penangkapan sejumlah anggota FPI, tapi kalau mau bereaksi juga masih justifiable, masih sah dan wajar. Karena toh kita inginnya yang terbaik bagi bangsa dan negara bukan begitu bukan.

Haaahhhh, terlalua banyak prolog, jadi intinya begini.

Saya akan membahas sedikit tentang Indonesian Idol, IDOLA INDONESIA itu loh.

Memasuki season ini, saya makin lama kok makin gak menemukan sosok yang dijagokan untuk menang ya, mungkin ada tapi cuma satu atau dua, itu juga gak yakin sampe lolos final. Gak terlalu banyak kontestan yang memang saya tunggu-tunggu penampilannya di tiap minggu. Setelah sempat liat babak workshop kemarin, dan liat para kontestannya kok cewek-ceweknya mirip ya, kurang heterogen, gak ada suara yang menggelegar kayak Nania, atau gaya nyanyi tante-tante ala Joy Tobing, yang ada mungkin komposisi penilaiannya sekarang adalah :

Punya Kehidupan Penuh Drama 40 %

Kisah Hidup Penuh Perjuangan 30 %

Bisa bikin penonton trenyuh 20%

Berkarakter 7.5 %

Bisa Nyanyi 2.5 %

Dan yang lebih membuat saya semakin bertanya-tanya terhadap kualitas sebuah Indonesian Idol. Apakah terlihat bagus ataukah kampungan jika seorang kontestan ketika selesai nyanyi dikomentari oleh juri bales komentar juga, dan terkesan terlalu banyak cangkam, suka banyak alasan, kalo gitu apa bedanya dengan lomba nyanyi di TV sebelah yang didampinya sang mama dan emak itu.

Coba bandingkan dengan Amerikan Idol, yang menurut saya kontestannya lebih behave waktu dikomentari dan kesannya gak banyak tingkah. We need a humble Idol indeed, just search in youtube, do they have a long chit chat after performed, nope rite?

Belum lagi sesi acara drama-drama dan telpon-telponan ke salah satu keluarga kontestan, apa perlu itu ya, apa ada efeknya jika seorang kontestan cewek ditelpon sodaranya karena sudah 2 minggu gak ketemu dan ngobrolin suatu hal yang tidak terlau penting. Masih mending nelpon sodara kembarnya yang sudah terpisah 20 tahun, lah ini cuma telpon biasa. Haruskah Indonesian Idol terbawa arus dengan meniru tayangan reality show serupa, saya memilih nonton Indonesian Idol karena lebih berasa kompetisinya menurut saya.

Tapi kok malah jadi geneee, apa karena tuntutan pasar ya, biar rating naik. Kalau perlu undang pelawak buat jadi juri, atau pilih salah seorang artis metroseksual untuk jadi fashion police, Saiful Jamil mungkin (kenapa harus nama ini lagi yang kesebut).

Makanya agak ragu tiap kali ada audisi Indonesian Idol, saya belum berani mencoba, saya takut melihat latar belakang keluarga saya dan kehidupan saya, orang –orang akan memilih bukan karena kualitas suara tapi karena kisah hidup saya terlalu menyedihkan untuk jadi seorang idola, tsaahhh.

Saya takut selesei nyanyi di babak spektakuler sudah ada dua butir kelapa yang sudap siap saya kupas pake gigi, karena producer acara nyuruh menampilkan bakat laen selain nyanyi. Atau saya tetep pake gigi narik truk gandeng yang beratnya berton-ton di depan balai Sarbini. Apa harus kayak gituuu, hahhh?.

Belum lagi masalah pemilihan lagu yang salah menurut juri, kalau dibilangin lagunya salah, ya gak usah panjang lebar kayak gitu ngejelasinnya. Misal, lagi nih, misal, saya milih lagu “Gelas-Gelas Kaca” dari Betaria Sonata pas top 5 (cieee, ngayalnya berlebih), saya bakalan diem aja gitu ngedengerin juri komentar, plus sedikit senyum, dan bilang terima kasih. Bukannya malah ngasih alasan karena lagu tadi merupakan lagu kenangan pas nembak cewek jaman SMP, dan berusaha keluar dari karakter Betaria Sonata yang melow, dan keibuan, kayaknya saya tidak harus seperti itu.

Mungkin kalau beneran akan seperti itu, maka tidak ayal lagi KPI akan menambah daftar tayangan TV bermasalah, karena Indoesian Idol menayangkan tindakan kekerasan yang berbau mistis, serta drama berlebihan yang tumbuh jadi satu.

Tapi tiap juma’at melem kalo gak ngantuk saya tetep nonton kok, tenang aja.


2 Tanggapan ke “Susahnya Jadi Idola”


  1. 1 indrapamungkas
    Juni 8, 2008 pukul 1:15 pm

    Saya takut selesei nyanyi di babak spektakuler sudah ada dua butir kelapa yang sudap siap saya kupas pake gigi, karena producer acara nyuruh menampilkan bakat laen selain nyanyi. Atau saya tetep pake gigi narik truk gandeng yang beratnya berton-ton di depan balai Sarbini. Apa harus kayak gituuu, hahhh?.

    Haaaa, mas, sampek ngekel aku mbacanya. .heee. btw, kan ada bakat terpendammu yang laen : makan beling sambil joget

  2. Juni 24, 2008 pukul 3:13 pm

    @indrapamungkas : makasihhhh…makasihhh…ya…


Tinggalkan Balasan




Smile

Cartoon of me

Disclaimer

Blog ini ditulis dengan penuh kepolosan, kesantunan, tidak ada hate speech, tidak ada unsur sara (suku, ras, Agama, akademik (nilai kuliah, IPK dan sebagainya), dan tanpa mewakili suatu partai politik ataupun ormas terstentu. Blog ini adalah personal blog yang isinya gak terlalu penting (ya kalau ada yang penting itu bonus buat anda). Saya masih belajar, dan terus akan belajar, karena dalam Hadist juga disebutkan, belajarlah sampai ke negeri China. Bahkan footer buku sinar dunia selalu ada. Blog ini juga tidak menyediakan download lagu-lagu gratis, ataupun video mpeg,3Gp dan lain sebagainya. Jadi bagi anda yang kecewa karena gak sengaja nge-klik, tau nge-link ke sini ya mohon maaf. Jadi selamat menikmati, sajian sederhana dari saya. Just Feel like Home

A Random Holy Verse

Yang Nyasar

  • 27,026 Orang

Hari-hari penuh ide

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

My Bloglog