Rutinitas saya tiap sabtu minggu adalah beli Koran Kompas, kenapa Kompas bukan Jawapos. Itu pertanyaan temen satu kos saya, yang kadang suka heran kenapa nggak beli Jawapos aja.
Untuk Jawapos saya mungkin bisa baca di warung depan kosan, nah kompas sendiri saya belum nemu warung kopi yang langganan kompas. Memorandum banyak.
Sebenernya saya juga bukan orang yang suka baca berjam-jam dan berlama-lama, tapi ada kolom yang saya sukai di tiap akhir pekan, dan baru saya temukan di Kompas.
Selain kolom Parodi Samuel Mulya, saya suka baca obrolan A-Politis Efek Rumah Kaca, di bagian Mandat Rakyat. Entah apa karena menjelang pemilu trus muncul rubrik temporer ini, atau nantinya akan jadi kolom tetap, saya pengennya sih tetap.
Nah siapa dan apa Efek Rumah Kaca itu?
Where’ve you been? Di lembah gunung Wilis?
Ini bukan kolom tentang penyelamatan lingkungan karena efek global warming, tapi opini dan curahan sebuah grup band indie tentang sebuah kondisi politik tanah air.

(Kok gak bisa upload foto yah..?)
Mungkin karena saya biasa baca blog orang, saya suka bentuk artikel-artikel seperti ini. Bukan ditulis orang yang kompeten di bidangnya tapi anak band yang concern terhadap kondisi politik. Jadi bukan ditulis oleh seorang pengamat politik yang kadang saya suka bingung bacanya karena banyak jargon-jargon yang saya nggak ngerti, bukannya malah tambah pinter, saya malah suka mimisan kalo baca.
Dan menurut saya apa yang mereka tulis itu jujur. Entah kalau memang mereka sekolah di Ilmu Politik, ya itu lain lagi, malah lebih bagus.
Tapi kalau dilihat dari track record mereka dalam menghasilkan lagu, rata-rata (hampir semua) lagu Efek Rumah Kaca adalah suatu bentuk kritik. Dimana bentuk kritik sosial lewat lagu mungkin hanya Iwan Fals, atau Slank yang peduli, walau mereka juga nggak menampik lagu-lagu berjenis komersil.
Saya denger pertama kali lagu mereka awal-awal adalah Cinta Melulu, lagunya nyinyir (nyindir mungkin), tentang kondisi per-laguan tanah air yang rata-rata hampir sama, melayu dan mendayu.
Dan saya mungkin melihat sebuah idealisme either bermusik ataupun dalam cara pandang mereka terhadap kondisi sosial yang ada. Dan itu nggak ada dalam grup-grup band pendatang baru dengan gaya emo-emoan itu, atau grup band yang sudah kebingungan cari nama band hingga alat-alat buat puntung rokok juga dipake.
Efek Rumah Kaca nggak bermain di jalur aman, lagunya juga belum masuk Inbox atau Dahsyat, dan belum diundang sama dua acara tersebut. Kalau nggak salah sempet juga diundang manggung di TV One, yah..?
Kalau di luar negeri band-band kayak Foo Fighter sudah sering buat lagu dengan unsur kritik politis di dalemnya, tapi kok laku. Nah di sini, boro-boro laku, lagunya keluar, yang ngerasa disindir udah mau maen nuntut aja.
Tau ah, mau nyuci dulu.






0 Tanggapan ke “Obrolan A-Politis Efek Rumah Kaca”