
Film ini konon katanya film berbudget rendah yang dibikin oleh Sam Raimi di sele-sela pengerjaan Spiderman 4, tentunya dengan minim efek visual, ya seminim-minimnya efek visual dan budget yang dipake tentunya gak bisa debandingin dengan film horor Indonesia macam Genderuwo atau Pocong Kamar Sebelah. Ceritanya sendiri ditulis oleh Sam Raimi dan Ivan Raimi, ya mirip-mirip Punjabi bersodara lah kalau di Inodesia.
Cerita dimulai pada tahun 1969 dimana sebuah praktek penyembuhan yang dilakukan oleh seorang psychic, dukun atau apalah terhadap seorang bocah yang mengalami gangguan dunia gaib (sebenernya saya ngira-ngira aja tuh anak sakitnya kenapa), dan walhasil si anak tidak tertolong karena kekuatan dari roh gaib itu lebih kuat dari dukun gipsi perempuan.
Dan seperti biasa adegan angin kenceng menggebrak jendela, anak kecil yang tiba-tiba terangkat dan jatuh ke lantai muncul pas adegan-adegan awal. Sang anak pun tiba-tiba tertelan oleh lingkaran api yang membelah lantai (I guess it’s hell, and he’s dragged in to). Si dukun pun selamat dari kobaran api, ia akhirnya kembali menata kehidupannya dan hidup bahagia di hutan, ceritanya pun tamat.
Belum ding, masih dilanjut dengan opening title dari film Drag Me to Hell, dan masih kurang satu setengah jaman lagi filmnya. Harapan saya terhadap film ini adalah, saya nggak cuman numpang tidur di gedung bioskop mengingat film terakhir yang lumayan sukses bikin saya seolah merasuk ke dalam cerita dan akhirnya terlelap adalah Angel and Demons.
Kembali ke Drag Me to Hell, dikisahkan seorang loan officer yang bernama Christine Brown yang pada suatu hari kedapetan seorang klien nenek-nenek latin yang meminta perlindungan finansial.
Iya, nenek-nenek latin itu namanya Mrs. Ganush, intinya kalau si Christine itu nggak bisa memperpanjang jatuh tempo pembayaran kreditnya si Ganush akan kehilangan rumah. Dan akan menjadi gelandangan, tentunya kondisi tersebut akan membebani pemerintah Amerika di tengah situasi krisis global ini.
Pemerintah akan menambah anggaran untuk para tuna wisma, dan sebenarnya menurut pengamat ekonomi masalah besar yang dihadapi warga Amerika adalah penggunaan kartu kredit. Apakah Ms. Ganush terjerat dalam penggunaan kartu kredit hingga tidak bias mebayar tagihan bulanan?. Saya juga tidak tau pasti.
Sejak perusahaan besar macam City Group menyatakan pailit, kemudian disusul pernyataan bangkrut dari raksasaa otomotif semacam General Motors. Kehidupan perekonomian di Amerika mulai goyah, jadi bersikaplah bijak dalam mengatur keuangan anda, seperti kata Ligwina Hananto, finance should be practical.
Bagaimana dengan Indonesia, apakah sistem ekonomi kerakyatan merupakan solusi, yang jelas kita butuh hal yang practical bukan sekadar jargon.
Bagaimana pula pandangan para pengrajin sepatu kulit Cibaduyut terhadap ekonomi kerakyatan?.
Bagaimana dengan isu neolib yang santer terdengar hingga seorang pedagang kelontong aja ngerti neolib itu bahayanya masya Allah dahsyat banget, lebih parah daripada kena muntaber.
Ini ngebahas apa sebenernya…?
Iya kembali lagi Christine, akhirnya dia menolak permohonan perpanjangan masa pembayaran kredit Mrs.Ganush.
Mrs. Ganush pun sebagai wong cilik, memohon dengan sangat pada mbak Christine agar kali ini permohonannya dikabulkan. Hingga Mrs.Ganush merasa dipermalukan oleh Christine di depan umum.
Nahhh, disitulah cerita bermula, secara langsung Mrs. Ganush mengutuk Christine karena telah mempermalukannya. Christine jadi batu..? tentu tidak.
Ketegangan awal dimulai ketika Christine berjibaku dengan sosok Mrs, Ganush di parkiran, beehh, saya rasa ni Mrs.Ganush mutant, kuat banget.
Saya juga nggak ngerti apakah itu Mrs.Ganush yang di parkiran itu apa, siapa, apa arwah atau gimana.
Terakhir Mrs.Ganush mengambil kancing jaket si Christine dan menyebutkan mantra kutukan Lamia.
Lamia sendiri adalah, uhhm, roh gentayangan bertubuh besar, item, biasanya nongkrong di pohon beringin (itu Genderuwo bukan..?..).
Dan dimulaikan segala bentuk terror yang terjadi paska kutukan Mrs. Ganush kepada Christine, sperti pas terjadi penampakan di rumah Christine hingga membuat temen saya nutup muka pake jaket.
Dan tentunya selain gak ngerti apa sebenernya yang terjadi didalam film, dia juga gak ngerti jalan ceritanya karena kepotong dengan tindakan menutup muka dengan jaket itu tadi. Dampaknya si temen saya itu bakalan takut-takut gak jelas, dan mulai bertanya-tanya hal gak penting yang merusak mood temen sebelahnya,
“Kok, arek iku tiba-tiba teko Ji..”
“Ya kan ditelpon…”
“Kok bisa…?”
“Ya kan pacarnya…”
Adakah hal lain yang lebih penting selain menganalisa topik “Apakah Pacar Anda Akan Mengangkat Telpon dan Langsung Dateng ke Rumah Pada Saat Anda didatengin Genderuwo, ataukah Si Doi Pura-Pura Sibuk dan Mematikan HP”
Dan bisa ditebak sendiri bahwa kelanjutan ceritanya adalah upaya pelepasab Christine dari kutukan Lamia Mrs. Ganush, dan selama kutukan itu belum lepas, maka Christine akan mengalami berbagai macam gangguan gaib.
Entah ya, saya banyak menemukan adegan serem-lucu ala-ala Scary Movie ketimbang serem-horor, contoh pas adegan si Christine ketindihan mayat Mrs. Ganush, ataupun kambing yang tiba-tiba kerasukan Lamia. Say da juga nggak terlalu sreg dengan acting Alison Lohman yang jadi Christine Brown, terlalu lemah lembut, berasa kayak Sireen Shunkar versi bule.
Dan kalaupun anda penasaran kelanjutan ceritanya kayak apa, ada baiknya untuk nontk on Drag Me to Hell, coba duduk deket sound, di barisan agak depan dijamin sensasinya lebih dahsyat.
Moral value dari film ini adalah cobalah berbuat baik walaupun itu berat, apalagi anda ketemu nenek-nenek gipsi dijalan dan ia menawari anda untuk membeli sekeresek aqua gelas bekas seharga 50 ribu. Jangan serta-merta menolak dan gak peduli, coba anda beli, sapa tau itu dari tim Tolong, lumayan kan.
gambar diambil di sini






hahaha.. reviewnya unik.. seger mas…
salam…
sama-sama Mas, salam kenal juga..kapan nih 5 Cm jadi film..?
tak dolek’e sek yo mas,,,,,,,,,,
Iyo..donlot ae, koyoke onok..tapi sik rekaman hee
huahahahaha… lucuuu… lama kali aku tak baca blogmu Guh….
transformers sik antri gak di sby ???
*kok jd transformer ya??
Reviewnya cukup bikin film horor jadi g serem mas :p
Saya sendiri baru nonton dan ngerasa film tsb at least better daripada film horor Indonesia yang banyak g mutunya, jadi miris ngeliat film horor kita yg judul dan pemain2nya g jelas
Kapan ya Indonesia bisa bikin film horor yg oke ?
btw, salam kenal
Salam kenal juga..iya seharusnya produser film2 lokal horor gak cuman asal bikin…sipp…