
Sempat beberapa hari yang lalu teman saya meng-sms bahwa hendaklah ber I’tikaf di Mesjid pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, biar semenit, atau berapa lamapun, jika niatnya beribadah hitungannya dianggap I’tikaf.
Siapalah yang tidak ingin mendapatkan berkah di malam lailatul Qodar, yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang nggak mau…? Tapi masalahnya saya layak nggak dapet kemuliaan seribu bulan itu.
Oke, sepuluh bulan lah, atau kalau nggak amal-nya lebih besar atau lebih mulia dari ibadah bulan kemarin. Gak terlalu bermuluk-muluk dengan 1000 bulan. Paling tidak ada peningkatan secara kualitatif dalam hal beribadah sebelum bulan puasa dan pada saat puasa.
Ibaratnya undian bank, semakin besar saldo tabungan maka semakin besar pula kesempatan menang. Gimana kita mau dapet All New Camry kalo saldo tabungan cuman 200 ribu, dapet payung canting juga bank bakalan mikir-mikir. Itu juga payungnya bakalan dikasih 3 bulan lagi.
Begitu (mungkin) kalau kita analogikan pantas tidaknyakah kita dapet berkah lailatul qodar pada malam-malam terakhir di bulan puasa ini.
Sepuluh bulan itu jika kita kalkulasikan sama dengan ibadah selama 83,33 tahun, lebih dari usia rata-rata hidup orang normal. Yea, Pak Harto could live longer, he died at 87.
Dan ini berarti nilai ibadah saat lailatul qodar itu lebih mulai dari ibadah anda selama 83,33 tahun, seee…!.
Jadi jika misal pas mati ntar umurnya masih 40, berarti kita masih punya tabungan 43,33 tahun pahala ibadah yang sangat mulia. Bego’-begoan nya sih gitu mungkin ya, saya juga nggak pengen mati cepet. Toh juga belum tentu dapet berkah lailatul Qodar.
Sepanjang puasa kali ini pencapaian saya adalah cukup rajin dan intensif pergi taraweh dibandingkan tahun kemarin. Dengan tetap konsisten mengambil 8 rokaat, berusaha berpakaian selayaknya kebanyakan iklan-iklan ramadhan di TV, baju koko dan sarung plus peci. Sesekali juga mencoba taraweh keliling ke beberapa mesjid, tapi tetep mesjid favorit adalah Mesjdi Ibrahim Gebang Llor.
They could manage the shift pretty well, jika anda mau ikut taraweh 8 rokaat, si Imam akan memberitahukan secera langsung untuk sholat witir, if you could stand for next 20 rokaat you can take a break, brilliant..!
Satu hal lagi yang entah ini sebuah prestasi apa nggak, saya bisa bertahan, gak ngeluh, gak bosen tiap sahur dengan pecel. It’s been done in past few week, or it’s started from day 1, I don’t know (and don’t care).
Pilihannya kadang delematis, antara sahur sama pecel atau nggak sama sekali. Kapan hari pas titip Sanyoto dia beli pecel. Begitu pula pas giliran saya beli dan nanya Sanyoto, tetep aja sama
“Titip opo tok…?”
“Sama, Guh..!
“Pecel…?”
“Iya Pecelll….”
Eat that..!
Sebenernya saya nunggu ada negasi dari Sanyoto kalau makan pecel 3 hari berturut-turut bisa meninmbulkan schizropenia, ingatan menurun, ataupun penyakit lain yang bakalan terasa di usia menjelang 50. Sehingga kita tidak makan pecel tiap sahur, mungkin dua hari sekali.
Kok jadi bahas pecel..?
Mungkin kalau saya menjabarkan akan ngapain aja di malem-malem terakhir ini, sebagian besar disi oleh acara buka bareng, ya entah ada pahalanya atau tidak saya nggak ngerti. Yang jelas bukber it’s becoming a hype stuff, mungkin perlu ada kajian khusus dari para ulama mengenai buka bersama ini, lebih banyak mudoratnya apa tidak, lebih kepada ajang silaturahmi atau you just need a decent place to fast-break, and looks way better if it’s free.
Juga semakin menegaskan bahwa adalah suatu kesalahan besar untuk buka bareng di sebuah Mall pada hari libur, di tengah sale lebaran, orang-orang yang baru dapet THR, ABG yang juga buka bareng sama pacar-pacarnya. Karena saya merasa amat sangat kecil, lebih kecil dari cendol.
Saya juga cukup bersyukur bahwa kampung halaman saya gak jauh-jauh amat, gak perlu pusing mikirin tiket, walaupun nyebrang pulau. Kalau nggak saya juga akan amat sangat sibuk mondar-mandir nyari tiket mudik.
Sama sibuknya, sesibuk mereka yang mengejar pahala lailatul Qodar.
Saya hanyalah hamba sahaya yang ingin ber i’tikaf tapi milih-milih mesjid, pengen yang ber AC dan gak ada nyamuk, yang belum bisa nangis pas Arifin Ilham mengumandangkan dzikir-dzikir indahnya, yang ngeluh lehernya sakit karena kebanyakan nunduk pas acara dzikir akbar. Saya hanyalah hamba sahaya yang hanya sahur dengan pecel hampir tiap hari, dan lebih memilih 8 rokaat tiap taraweh karena mau nonton Opera Van Java.
Selamat mudik, selamat bukber, selamat mencari berkah 1000 bulan, selamat dapet THR dan berburu diskon….
Dan saya, mungkin akan sibuk menyiapkan sesajen buat HP yang kembali rusak…*sigh*
The beautiful picture is taken from here






0 Tanggapan ke “10 Malam Terakhir, Mau Kemana..?”