BB Attact (Lagi)

Beberapa waktu silam sempat saya menulis sesuatu tentang sebuah handset yang mungkin harus jadi barang wajib di abad ini. Sebuah gadget keluaran RIM yang sempat membuat hidup saya tidak tenang.
Tidak tenang, ketika waktu itu saya merupakan salah satu dari sekian kecil orang di tempat kerja yang tidak memakai Blackberry. Dan masih tidak tenang, ketika saya akhirnya benar-benar memiliki benda idaman (should I cal it Idaman?) jutaan umat ini.
Beberapa bulan setelah tulisan saya tentang Blackberry dipost di blog, dan kemudian menyusullah banyak simpati, empati, cemooh dan umpatan dari berbagai pihak (yang gak perduli dan masa bodoh lebih banyak lagi). Finally, at that next following months, I was being a commoner. Saya resmi punya blackberry dan secara ajaib menjadi pekerja kantoran yang tidak pernah lepas dari Blackberry. Cihuy lah pokoknya.
Saya berubah bahagia, tidak juga. Saya secara resmi menjadi konsumen RIM ketika muncul berita panas mengenai pembatasan layanan terhadap akses Blackberry service. Isu konyol yang sempat muncul adalah, BBM bakalan gak akan berfungsi, RIM gak punya ijin resmi di Indonesia, BB bakalan ditarik dari pasar, BBM-an sambil bengong bakalan bikin ayam tetangga mati, BeBe Haram bla-bla-bla.
Tentu berita simpang siur ini seolah tidak adil. Karena saya merasa dipermainkan oleh system (ciee..sistem). Ketika semua orang menganggap blackberry adalah benda yang bisa bikin ganteng, karisma bertambah dan jodoh makin lancar. Saya waktu itu hanya bisa menjadi anak desa cupu di tengah warga metropolis dengan BB di tangan.
Dan ketika saya akhirnya nyerah dan punya BB, saya masih tetap menjadi anak desa yang cupu namun sedikit gaya karena dari kejauhan terlihat menunduk dan asyik dengan blackberry. Gaya, dan norak kadang hanya dibatasi oleh selembar kelambu tipis. Dan ke-gaya-an saya hanya berlangsung seminggu, karena setelahnya mungkin orangt-orang sudah tidak menggunakan BB lagi terkait isu sialan tersebut.
Minggu pertama ketika BB dengan seri sejuta umat sudah dalam genggaman (BB dengan casing plastik ), saya masih dibuat pusing dengan kondisi BB yang suka rewel. Tiba-tiba hangat, tiba-tiba kedip-kedip padahal gak muncul notofikasi, tiba-tiba mati, batere cepet habis, dan 1001 keajaiban lainyya yang bikin saya senewen.
Ketika saya merasa heran si BB tiba-tiba hangat sampai terasa di kulit paha, saya pun mengeluarkan pertanyaan dengan nada khawatir.
Saya : “BB ku kok anget..?”
Teman 1 : “Rusak paling..”.
Teman yang BB nya bolak balik rusak menjawab dengan enteng.
Teman 2 : “Tuh,kan. Ngapain beli BB, aku sih ogah”.
Teman 2 yang dulu antipati dengan BB ikut berkomentar. FYI, teman saya yang dulunya apatis terhadap keberadaan BB dan sekarang sejak pakai BB, beliau paling aktif di group, sering update status, dan ganti gambar profil.
Teman 3 : “Loro paling,..kene..kene…tak gendonge”
Dan yang terakhir adalah jawaban absurd dan tidak memberikan solusi dari seorang teman kantor wanita. Mungkin BB saya bakalan dia kasih ASI.
Belum lagi ketika saya terlalu memperlakukan si BeBe dengan amat sangat berlebihan. Padahal juga harganya gak seberapa (lah kok sombong). Saya belum pernah se insecure ini ketika kemana-mana harus membawa gadget yang tiba-tiba suka hangat di kantong celana.
Saya sempat wanti-wanti ketika naik mobil teman, secara kebetulan di depan ada truk container. Saya khawatir ketika lagi asyik belajar BBM-an, nyoba-nyoba download, buka-buka email (yang isinya hanya notifikasi facebook dan newsletter gak begitu penting) atau iseng-iseng ngelepas-ngebuka-ngelepas-ngebuka-batere BB secara simultan. Tiba-tiba teman saya ngerem mendadak. BB saya terjuntal ke depan, nembus kaca mobil sampai akhirnya jatuh ke aspal dan dilindes truk container.
Dan saya akan sedih berkepanjangan serta menuntut teman saya karena melakukan perbuatan pengrusakann terencana, sengaja dan sistemik.
Yang ada di dalam pikiran saya adalah bagaimana benda kotak hitam suka kedap-kedip genit itu selamat sehat sentausa. Saya bahkan tidak memikirkan keselamatan saya, apalagi teman saya yang lagi nyetir dan mobilnya saya tumpangi.
Teman saya yang pada awalnya ngajak ditemenin biar ada teman ngobrol selama perjalanan menemui klien (entah klien apa, di mana, dan yang mana saya juga lupa karena konsentrasi saya hanya pada Bebe). Akhirnya ia hanya bisa ngomel-ngomel karena saya lebih banyak bengong mencet-mencet BeBe ketika diajak ngobrol.
Dan semakin hari saya mulai (agak) merasakan manfaat BeBedalam pekerjaan saya waktu itu. Mulai dari hal remeh temeh macam nitip bungkus makan siang, ngomongin teman kerja, ngomongin driver, atau obrolan tidak berguna lainnya yang seakan dipermudah dengan keberadaan sebuah teknologi BBM.
Bahkan manfaatnya bisa jauh ke tingkatan lebih tinggi dari sekedar remeh temeh yang biasa saya dan teman saya lakukan. Himbauan menggunakan baju kerja warna tertentu untuk memperingati perayaan tertentu, update hasil meeting, hingga kirim-kiriman gambar kue tart dengan seorang Manager beda wilayah yang mana saya belum pernah ketemu.
Sumpah, ini ajaib, jadi saya sebagai anak baru, he’ eh saja diserahi tugas untuk mesen kue tart di sebuah hotel berbintang, dengan instruksi jarak jauh. Mulai dari beli dimana, ukuran, bentuk, rasa, harga, hingga gimana nanti saya ngirimnya ke alamat klien, semua via BBM.
Betapa saya merasa sudah menjadi karyawan yang baik ketika seorang boss meminta untuk nge-add pin beliau demi kelancaran komunikasi dan silaturahmi mungkin (yang terakhir mungkin saja, tapi peluangnya tipis). Tapi tetap ujungnya adalah demi kelancaraan kerja.
Bisa jadi ruang berekspresi menjadi lebih sempit karena kita tidak bisa serta merta seenak jidak mengapdet status BBM tentang keluhan seputar kerjaan. Karena ada nama boss di kontak BBM.
Mentok-mentok status penyemangat yang ditulis berulang biar keliatan etos kerja terjaga, atau avatar yang berisi kutipan kalimat penyemangat macam “Hari ini harus lebih baik dari esok”. Atau paling sering saya menjumpai teman yang asik dengerin lagu “Sumini Cutez is listening to Paramore – Only Exception, Oasis – Wonderwall, Wali – Tomat, ST12 – Isabela (www.musikgaul.com), OM Sera – ABG Tua” (pemilihan lagu mencerminkan kondisi mood seseorang, jadi jangan protes). Ini bukti bahwa sebuah gadget secara perlahan merubah kehidupan seseorang., atau menambah beban kehidupan seseorang, dan atau lagi, menambah ribet hidup seseorang.
Dan sekarang usia BeBe sudah lebih dari 7 bulan, dengan kondisi headset ilang entah kemana, layar lecet, bodi sudah tidak karuan karena secara serampangan kadang saya masukin tas. Dan otomatis bercampur dengan isi tas saya yang mirip kantong doraemon.
Sekarang sudah tidak se-excited dulu ketika tiba-tiba BeBe kedap-kedip manja. Atau tidak sepanik dulu ketika ada BBM dari atasan untuk sebuah urusan pekerjaan. Dan ketika si BeBe ini habis batere pun saya tidak se hectic ketika dulu charger ketinggalan di kantor, hingga saya terpaksa beli charger abal-abal merek vision seharga 30 ribu.
Sekarang lebih tenang, si bos baru bukan pengguna BeBe. Hal-hal yang menyangkut pekerjaan pun lebih sering via telpon, atau SMS.
Dan saya mulai merasa kembali normal ketika BeBe ini hanya menyala sekenanya, group BBM kantor dulu, sekarang hanya ramai ketika ada yang ulang tahun, kalaupun ada isu terkini toh saya sudah agak roaming. Group BBM teman kuliah hanya aktif ketika ada foto teman yang jadi bahan cela-celaan, atau menjelang janjian main futsal.
Yang paling aneh adalah group BBM yang hanya berisi 4 orang teman kuliah sekaligus teman kos. Demi mengenang kejayaan kos-kosan yang pernah kita tinggali bersama, serta menjalin silaturahmi, group itupun terbentuk. Dan hanya aktif di awal-awal saja (kebetulan ke-empat-empatnya masih seumur jagung menjadi pengguna BeBe jadi memang agak suka norak).
Entahlah, saya tidak menganggap Blackberry adalah teman ngobrol di kala suntuk, dan ketika kondisi BIS belum diperpanjang dan paket langganan sudah habis. Saya tidak terlalu khawatir, toh masih ada SMS dan telpon masuk. Ya walau sms-nya lebih sering nawarin dagang pulsa, dan telpon pun kebanyakan dari emak saya (loh kok curhat).
Tapi setidaknya, saya bisa (tiba-tiba) kenalan dengan teman baru, walaupun jarang – bahkan hampir tidak pernah – ngobrol, sesekali hanya kirim pesan yang berisi “Test Contact” ketika saya balas pun dia tidak bergeming. Konon itu cara ngecek apakah kontak temen-temennya masih aktif atau tidak, atau temen-temennya lagi bengong dan mati gaya kayak saya.
Jadi kalaupun BBM saya tidak aktif, jangan sungkan-sungkan untuk sekedar “Test Contact” saya pasti balas walau anda ngsih embel-embel don’t reply. Entah saya balas lewat mimpi ataupun telepati. Kalau mood bagus saya bisa balas pakai pantun.
Picture taken from here





pertamax lagi gok….hekekeke…dan sampai sekarang aku dewe jek betah ga gawe bebe gok…
jaman bebe udah lewat… sekarang jamannya angdroit!!!! *yeeeaaaahhh