Sarjana Oh Sarjana, Alhamdulilah

Beberapa minggu terakhir ini saya menjadi saksi hidup bagaimana seorang pemuda usia matang akan meraih – bahkan menambah- gelar akademisnya. Teman saya, secara resmi dinyatakan lulus ujian sidang tugas akhir, dan tidak lama akan segera merasakan gemerlapnya pesta wisuda.

Iya sih, seharusnya teman saya ini bisa lulus tepat waktu kalau mau. Atau bahkan 3.5 tahun kalau niat bin istiqomah dan rajin minum ginko biloba dan jamu buyung upik. Tapi apa daya, suratan takdir berkata tidak.

Setelah melalui perjuangan puuuaaaanjang selama belasan semester, sebagaimana selayaknya calon wisudawan yang lain. Teman saya memberitakan kabar gembira kepada orang tua di rumah, perihal upacara penyematan gelar Sarjana Teknik yang akan segera dihelat.

Entah mungkin karena lupa atau sang orang tua sudah menganggap si anak sudah lulus kapan tahun karena saking lamanya, maka respon dan ekspresi yang diberikan tidak sesuai yang diharapkan.

Sebuah antiklimaks, yang seharusnya teman saya mendapatkan penghargaan yang lebih layak. Untuk sebuah perjuangan panjang bertahun-tahun, belasan semester ditempuh, mungkin teman saya bisa saja minta didampingi Bupati waktu pesta wisuda nanti. Diarak diiringi reog Ponorogo, dikawal berkompi-kompi petugas polisi.

Tapi karena teman saya ini memang dasarnya rendah hati, nrimo, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan. Ia menganggap bahwa lulus belasan semester sudah digariskan takdirnya oleh Tuhan YME.

Jadi ia menganggap ini merupakan jalan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT. Seperti halnya senetron religi, bahwa di setiap akhir cerita pasti ada hikmah yang bisa diambil. Begitu pula drama perjuangan sampai titik darah penghabisan demi sebuah gelar sarjana. Itu semua sudah digariskan dengan indah untuk teman saya.

Saya sih cuma bisa senyum-senyum pahit. Entah itu benar atau tidak, yang penting saya ikut seneng temen saya akhirnya lulus, dan jadi Sarjana.

Jika difilmkan mungkin kisah teman saya ini akan dikemas apik oleh Hanung Bramantyo, film tentang perjuangan seorang mahasiswa yang berjuang menjadi wisudawan. Atau jika Christohper Nolan yang bikin, maka film ini nantinya akan dikemas dengan sangat rumit, macem Inception, banyak flasback, banyak konflik, pokoknya intinya film gak nyantai lah.

Karena sebelum maju buat sidang, cobaan demi cobaan mulai berdatangan. Shireen Sungkar yang bolak-balik suka mendapat ujian dan jarang sekali keliatan beruntung di dalam sinetron, mungkin kalah dengan teman saya.

Beberapa hari sebelum ujian, software yang nantinya dipakai untuk demo tiba-tiba error, atau dosen pembimbing yang tiba-tiba lepas tangan dan pasrah gak bisa bantu. Dan puncaknya, laptop yang berisi data-data tugas akhir, hilang beberapa jam sebelum ujian sidang. Astagfirulloh, ini kalau di film India sudah ada efek petir dan hujan deres kayaknya.

Syukurlah teman saya ini tipe-tipe orang yang selalu bersyukur dalam setiap cobaan. Kalau saya sih bisa penuh drama, mungkin saya masuk ke kamar mandi, pintu dikunci, siap-siap ngiris nadi, nelpon orang kampus. Kalau gak dilulusin saya gak mau keluar.

Saya yang juga pernah merasakan sakitnya perasaan ketika harus molor dan menunda-nunda gelar sarjana. Dalam kondisi ini yang bisa bikin kita tetap istiqomah dan semangat adalah orang terdekat.

Orang tua yang paling penting. Adakah hal lain yang bisa mendorong semangat seseorang biar segera lulus selain orang tua. Coba deh, taruh foto Mommy Daddy atau Mimi Pipi (ini buat Aurel dan Azriel mungkin) di samping computer, atau di desktop laptop. Atau gampangnya di dompet. Kalau perlu print A0, kasih pigura dan pasang di dinding kamar.

Foto dua orang yang tampak bangga dan tersenyum ngeliat anaknya sedang berjuang ngerjain tugas akhir, atau lagi senyum ngeliatin anaknya bayar fotokopian bahan-bahan skripsi waktu buka dompet. Itu mungkin bisa jadi trigger yang ampuh.

Tapi terkadang ketika kita jauh dari orang tua, orang yang paling deket (selain tetangga kos) adalah temen sendiri. Fungsi teman mungkin bisa menggantikan orang tua menurut saya.

Saya pernah berada pada posisi di mana teman-teman saya sudah pada lulus, dan saya masih asik melenggang menikmati subsidi pemerintah menjadi mahasiswa tingkat akhir se-akhir-akhirnya. Kadang kalau ditanyain,

“Eh gimana TA, sudah beres..?”

“Kapan wisuda..?”

“Hah, sik gurung lulus..? lapo ae..?”

 

Itu yang bikin suka sakit hati. Mereka yang nanya memang tidak tau dan tidak mau tau apa yang sedang kita rasakan. Kapan maju sidang, kapan TA kelar, adalah pertanyaan yang bisa memicu perang saudara.

Sebenernya mereka tahu kalau bikin project tugas akhir itu susah, gak kayak bikin 1000 candi-nya Roro Jonggrang yang semalem bisa langsung jadi. Entah Roro Jonggrang yang tidak bisa bikin RAB dan project planning, kok bisa 1000 candi minta jadi satu malam, atau Bandung Bondowoso yang freshgraduate Teknik Sipil, jadi belum pengalaman.

Ada banyak faktor kenapa kita kok lebih lama dari pada temen yang laen, kenapa yang lain satu semester sudah bisa maju sidang. Sedang giliran kita harus nunggu musim panen dua tahun lagi.

Sebenarnya mereka adalah teman-teman yang peduli dan mengingatkan, tapi dengan versi kalimat dan muka yang lebih nyebelin dan nyelekit. Mereka juga tahu kalau ngerjain TA itu gak gampang, jadi cuma bisa nanya karena saking bingungnya mau bantu gimana lagi. Teman terdekat hanya hanya bisa ngingetin, mungkin itu yang bikin kita kesel.

Adapula cerita seorang teman yang project tugas akhirnya nyantol gara-gara di bawah bimbingan seorang professor. Si professor konon susah ditemui karena beliau suka bolak-balik ke luar negeri. Padahal teman saya ini sudah mulai mengerjakan tugas akhir di semester ke delapan, sesuai jadwal.

Dan entah kenapa akhirnya sampai molor-molor gak karuan hingga sekarang. Yang saya tangkap dari cerita sedihnya adalah si dosen pembimbing yang nota bene adalah professeor tersebut memang terkenal susah. Entah susah ditemui, atau susah dalam proses asistensinya. Memang selain kuliah si mahasiswa ini punya usaha sendiri, dan sebelumnya memang terlibat project dengan si professor. Jadi alasan kemolorannya masih excusable walau tidak masuk di akal.

Saya dulu sempat berpikiran kalau seandainya Tugas Akhir bisa diganti dengan project pementasan drama, saya rela belajar acting biar bisa main bagus dan lulus (pementasan Snow White mungkin). Impian untuk main drama sebagai pengganti tugas akhir adalah hanya khayalan semu. Dalam proses meraih gelar sarjana, bukan drama ala dongeng yang kita mainkan, tapi drama reality perpaduan antara Termehek Mehek dan Realigi.

Dan +beberapa hari lalu, teman saya tampak sumringah dengan setelan kemeja putih celana hitam dan dasi warna warni. Tercatat sebagai calon wisudawan dan lulus yudisium. Saya ngelihatnya aja bangga, apalagi teman saya.

Namun rasa galau pasca lulus itu mengalahkan rasa bangga ketika teman saya dinyatakan boleh ikutan wisuda.  Yang membuat galau adalah mencari pendamping wisuda, sekaligus pendamping hidup.

Jadi yang minat jadi pendamping wisuda, pm ya Gan..thanks.

Picture taken from here 

  1. pertamaxxxx……^^V

  2. Thanks sist. kapan bukber sist..? hehe

    • fauzan
    • Agustus 4th, 2011

    Jumat siang akhir desember,kurang dari 24jam menjelang wisuda,ibu saya telpon: “conk,beneran kamu wisuda besok?jadi kan?kalo emang jadi ibuk brangkat sekarang,mas mu mo ambil cuti juga nih…” *zoomin *suarapiringpecah *suaranaratormanas2i… Kuliah saya tempuh 12semester,dgn rekor perpanjangan TA 3x 2x ganti judul, dan baru diwisuda setahun kemudian, tampaknya bukan hal yg lucu deh kalo bilang kekeluarga “ibuk,saya wisuda sabtu tgl ini bulan ini,dateng yaa…” tapi di hari H dengan santai saya bilang “surpriiissseee….saya ga jadi wisuda buk, rektor kampus encoknya kambuh”,.bisa jadi mungkin hal ini yg dikawatirkan ibu saya *jongkokdipojokan

    • aku ngakak baca komenmu zaan….yang penting wes lulus bro..majuh kah..nyareh pesse makle bisah ajerkalenjerr…*appppaaaa?? jer kalenjer??? *epentung tang rengtoah…:))

    • Hahaha, LOL. Acara wisudaan saya sangat datar dan tidak wah, habis wisuda, foto studio langsung pulang. Mungkin gara2 sebelumnya sempat 2x daftar yudisium tapi gagal, jadi ortu sudah mbatin “terserah kapan wes, wisudane”

      • mending ada sesi foto studio gok…aku ga ada sama sekali..kai nyaik wes capek di graha lama…belum lagi di jurusan…hekekke…mana bawa pasukan sekompi dari madura…kalo cuman kai nyaik mbak dan kakak gpapa..ini nyambih nyanyah due’en…sapopoh settong…ontong tang emba tak egibeh kabbi…hekekeke..

        jadi isi wisudaan..ger moleah ka madureh..ga ada sesi foto studio…ga ada sesi foto sendiri…*melas…ra due pewe…hahhahaha

    • ristiyan
    • Agustus 5th, 2011

    yahhh,, ga merasakan nikmatnya kuliah lama nih.. jadi ga ada kesan… :(

    *sombong :) )*http://teguhperdana.wordpress.com/2011/08/03/sarjana-oh-sarjana-alhamdulilah/#comment-form-wordpress

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.