Mestakung : Fisika, Madura dan Tambak Belakang Rumah
Ada beberapa hal yang membuat saya penasaran dengan film Mestakung ini

- Lokasi syuting di tambak garam dekat rumah
Jadi saya penasaran dengan apa yang akan ditampikan di layar lebar. Imajinasi saya ngebayangin kincir angin dengan siluet senja, bunga tulip bermekaran dan mbak-mbak sambil membawa keranjang berisi garem, sepatu kayu dan mereka menari bersenandung “ooeelioo..liooo…uuuu, kami datang di Indonesia, empat rasa yang istimewa..”.
Kadang saya suka ngayal kalau rumah saya berada sebuah desa di Netherland.
- Film Inspirasional berlatarkan Science
Beberapa tahun terakhir pamor siswa Madura, terutama Pamekasan semakin bersinar sejak Berjaya di Olimpiade Fisika Internasional (mau nyebutin itu sekolah saya kok terlalu nyombong gimana gitu). Saya bahkan sempat mengutuk diri sendiri mengapa buku Fisika itu Mudah dan Mekanika Tanpa Kalkulus karangan Yohanes Surya lebih sering saya tenteng kesana kemari daripada dibaca dan dipelajari. Coba kalau…ah sudahlah.
Itu dua hal yang membuat saya harus menyiapkan waktu dan duit buat nonton film local dengan latar belakang budaya Madura dan Fisika ini.
Walhasil rasa penasaran akan seperti apa film Semesta Mendukung terbayar sudah setelah nonton rame-rame dengan beberapa teman. Film ini secara umum menggambarkan perjuangan seorang anak laki-laki bernama Arief (Sayef Muhammad Billah), siswa sebuah SMP di Sumenep dengan kemampuan fisika di atas rata-rata.
Dengan bapak seorang supir truk bernama Muslat (Lukman Sardi), Arif setiap hari bekerja di sebuah bengkel dan sesekali di arena pacuan karapan sapi. Uang yang terkumpul kemudian nantinya akan digunakan si Arif buat nyusul Ibunya di Singapura dengan perantara Cak Alul (Sujiwo Tedjo).
Adegan dimulai dengan menampilkan karapan sapi, dan si Arif tampil dengan kaos strip-merah-putih, khas Madura. Mungkin ini maksudnya bertujuan untuk menunjukkan identitas kedaerah yang selama ini dikenal. Bahwa kaos putih garis-garis merah adalah fashion item yang melekat dengan orang Madura dan memang acara seperti karapan sapi adalah timing yang pas buat ber striped-tee.
Ternyata di adegan-adegan selanjutnya si Arif masih aja pake kaos putih garis merah favoritnya. Oke, tak apalah, mungkin Arif punya selusin kaos dengan motif yang sama. Adegan pun mengalir, sesekali saya disuguhi oleh pemandangan tambah garam yang gersang, plus kincir angin (tak ada bunga tulip, domba, ataupun nonik Belanda di sini). Di sekolah Arif mendapatkan perhatian lebih dari sang guru fisika (Revalina Estemat) setelah ia berhasil bikin roket air di depan sekolah.
Arif yang kala itu kecewa dengan Cak Alul yang ternyata penipu, akhirnya mulai mempertimbangkan tawaran untuk mengikuti pembinaan tim Olimpiade Fisika di Jakarta. Setelah tahu bahwa nanti mereka akan mewakili Indonesia untuk berlomba di Singapura. Negara yang ingin sekali dituju oleh Arif demi mencari sang Ibu (Hermalia Putri).
Jujur saya agak kurang terpuaskan dengan film ini. Harapan saya film ini harus lebih banyak menampilkan muatan-muatan Fisika (pusing atau ketiduran di bioskop itu urusan belakang), atau film-film tema sejenis macam Beautiful Mind. Saya sih berharap ada banyak adegan yang menampilkan bagaimana Arif bergelut dengan rumus-rumus fisika, proses dia belajar agar bisa setara dengan teman-teman lain yang lebih senior. Atau mungkin ada adegan di mana Arif menemukan metode baru dalam memecahkan soal yang bikin teman-temannya iri hingga pas balik ke meja dijegal pake kaki, Arif jatuh terjerembab dengan muka belepotan oli (ok, ini agak sinetron mungkin, dan kenapa tiba-tiba ada oli saya juga gak ngerti).
Tapi, saya melihat terlalu banyak bumbu-bumbu dan tambahan cerita yang tidak perlu. Film ini melibatkan banyak karakter, beberapa diantara adalah actor dan actress yang cukup kawakan. Revalina, Lukman Sardi dan Sujiwo Tedjo bermain cukup baik. Apalagi kemunculan sastrawan asal Madura, Zawawi Imron sebagai kepala sekolah Arif.
Tapi toh karakter masing-masing belum tergali dan seolah tampil nangggung dan sebentar. Dan entah kenapa Ferry Salim dipilih sebagai pemeran pembina Fisika, terlalu dandy menurut saya untuk seukuran seorang pengajar fisika (kenapa jadi stereotype begini?).
Karakter-karakter yang muncul pada saat Arif di pemondokan tim fisika juga sekedar lewat, tiba-tiba ada karakter jahat, ada pula yang simpati kepada Arif. Karakter lucu ditampilkan cukup pas dan tidak berlebihan oleh Indro Warkop.
Adegan absurd menurut saya, ketika si cewek (entah siapa itu namanya, Clara atau siapa lah) tiba-tiba senyum sambil memegang tangan Arif di tepi pantai di Singapura. Setelah seharian Arif gagal menemukan Ibunya di seluruh penjuru Singapura.
“Untung ada Clara yang membuat aku tenang”
Kira-kira itu kalimat yang mungkin menunjukkan bahwa si Arif sudah akil baligh, bukan remaja desa nan cupu yang suka lari-lari di tambak garam. Dan wajarlah ada yang menaruh hati padanya. Mestakung lah pokoknya.
Deuuh, ini kenapa jadi kayak filmnya Acha sama Irwansyah begini.
Si Arif yang memang diplot sebagai tokoh utama, termasuk baca narasi juga, agak kurang maksimal aktingnya menurut saya. Mungkin seandainya jika kita belum pernah nonton Laskar Pelangi dengan assemble cast-nya yang aduhai, Emir Mahira di Garuda di Dadaku atau Yosie Kristanto di film Tendangan dari Langit, acting Sayef Muhammad Billah bisa saja dimaklumi.
Terlepas dari itu semua, saya sih gak sok-sok an sotoy menilai film ini jelek. Tapi ya itu tadi, sacara syutingnya deket rumah, inspirasinya dari adik kelas yang dapet emas Olimpiade Fisika, guru pembinanya adalah guru saya juga. Jadi wajar kalau ekpekstasi itu ada.
Semoga ke depannya, Mizan tetap konsisten memproduksi film-film yang bertujuan menginspirasi dengan tetap memperhatikan kualitas film.





pertamaxx lah pokoknyaaaa…..=D
Aku gorong nontok,kelian meninggalkanku (lonely)
Aq jg bingung wkt baca novelnya (blum nonton loh, ga ada 21 di jember T_T). Knp pencitraan sekolah kita ndeso cek sorone yo??
Sejak kapan fisika itu mudah?
filmna kepotong2 dan alurna kadang ga nyambung…eehhmm agak kecewe sih dengan ekspektasi awal saya…tapi karena saya satu jenis sama arif…saya kasi jempol satu aja…hiaaahhh
saya suka waktu arif kirim umpan lambung dari sayap kanan, parabolik banget gerakannya. eh, ni arif suyono kan? yg pemain bola itu? *salah gaul*
aku dorong ndelok, bar moco iki tambah gak pengen ndelok. hahhaha
wah pdhal lokasi syutingnya dkat rmh gua,desa bunder pamekasan,pnasaran sih pengen liat kmpung gua krn gua lm mrntau di mnado
film yang ditunggu, dvd nya, tapi kok belum ada…. masih menunggu