Tahu Tek Pak Din
Setelah sekian lama tinggal di Surabaya, ada satu signature dish yang menjadi favorit saya. Yaitu tahu tek, atau sebutan lainnya adalah tahu telor.
Konon tahu telor itu adalah tahu tek plus telor. Jadi basically tahu tek adalah campuran bahan-bahan sederhana yang mudah dijumpai dan mengenyangkan, digoreng kemudian dipotong-potong dengan gunting. Nah proses pemotongan ini mengeluarkan bunyi “tek..tek” sehingga, sebutan tahu tek berawal dari situ.
Lah, kalo Tahu Genjrot, Tahu Po, Tahu Pong itu dipotongnya pake apa ya bang, bisa bunyi aneh begitu.
Yo embuh le, la menurutmu?
Disamping bahan-bahan murah meriah dan mudah didapat, seperti tahu, kentang, lontong serta telor dadar yang dicampur dengan potongan tahu. Yang paling penting dan menjadi senjata utama adalah bumbu kacang petisnya. Dan itu tergantung dari kelihaian sang peracik, sosok yang berada dibalik cowek dan ulekan. Bagaimana ia menentukan rasa, berapa siung bawang putih, berapa sendok petis, berapa milliliter air, bahkan berapa rpm kecepatan ulekan hingga pengaturan ritme yang pas. Itu semua saling berkaitan.
Kalau bahan-bahan pelengkap lainnya tidak harus spesifik, semua sama. Kecuali jika Farah Quin yang masak, campuran bahannya agak lebih ribet, bisa-bisa ada jamur, daging wagyu yang disuir-suir, paprika, terong belanda, daun basil, rumput laut dari perairan Siberia atau mungkin cingur dari sapi Australia dengan sedikit potongan daun mint yang dicincang halus dan minyak ikan kod.
Ini tahu tek atau apa sih sebenernya?
Sejauh ini, sepanjang pengetahuan saya tentang per-Tahu-Tek-an, ada seorang penjual tahu tek yang hampir memenuhi teknik racikan bumbu dan tingkat rpm yang pas dalam mengulek. Dia adalah Pak Din.
“Gambar di bawah ini adalah salah satu misi global yang harus tercapai oleh Pak Din, memasyarakatkan Tahu Tek ke pasar dunia”

Di grobaknya tertulis Tahu Tek Pak Din, hampir setiap hari mangkal di samping Giant Mulyosari, di pertigaan, biasanya di bawah tiang listrik depan Greja Mawar Saron.
Saya pertama kali ngincipi tahu tek Pak Din, langsung kesemsem dengan bumbunya. Dibandingnkan dengan penjual tahu tek yang suka lewat di depan kos, harga tahu tek plus telor Pak Din 1000 rupiah lebih mahal. Jadi Pak Din menjual satu porsi Tahu Tek seharga 7000, namun harga segitu cukuplah sepadan.
Pak Din tiap kali beroperasi selalu ditemani seorang Istri dan satu orang anak laki-lakinya yang kira-kira masih usia anak SD kelas 2, 3 atau 4 (entahlah, masih kecil pokoknya).
Pak Din sendiri berperan sebagai kepala Koki, tugasnya meracik bumbu, dan mengulek. Sementara sang istri bertugas sebagai asisten, kebagian nyatet pesenan, goreng tahu, kentang, telur dadar termasuk plating akhir. Nah si anak laki-laki yang biasa dipanggil Fa (nama panjangnya mungkin Alfa, Fajar, atau Fauzan) bertugas sebagai waitress dadakan, sesekali ngupas kentang rebus, sesekali nyuci piring, bahkan kasir.
“Fa, Tahu Tek dua, ayo ambil kembalian, kembali berapa?”
“Piro buk? Enam ribu?”
Tahu Tek Pak Din ini memang terbilang cukup rame, saya pernah sampai ngantri satu jam lebih hanya untuk satu bungkus tahu tek. Karena bumbu yang disiapkan harus diulek satu-satu, jadi bisa dibayangkan jika semalam Pak Din menjual 50 bungkus, maka berapa balsam geliga yang harus dioles sesampainya dirumah buat ngurut tangan.
Belum lagi pelanggan yang suka nelpon duluan, minta dilayanin duluan, atau pelanggan yang memiliki tingkat keribetan yang luar biasa dalam memesan tahu tek.
“Cak, tahu tek 3 ya..”
“Yang satu gak pake kentang, Lombok 2, kecambahnya dikit ae”
“yang satu, kentangnya banyak, gak pake lontong, lombok 4 tapi lek isa lomboke sing ijo-ijo ae”
“Satu e, gak pake cambah, kentange dikit, Lombok 5, lontonge dikit ae, tahu e sing akeh”
Dan sesekali Pak Din merespon dengan helaan napas panjang, mata merem beberapa detik, kemudian nanya balik. Ekpresinya mungkin bisa diterjemahkan dengan ekspresi “Tuhan-Coba’an-Apalagi-ini-Tuhan”. Kalau saya jadi Pak Din mungkin saya bisa senewen, ngomel-ngomel sama mbaknya
“Wooiii, mbak, ini kecambahnya habis, mau nunggu apa gimana, kalo mau, saya tanem dulu?”
Setelah hening selama 45 menit si mbak pun akhirnya memberikan jawaban
“Oke, boleh deh Cak”
Dan saya pun gantung diri di pohon toge.
Mungkin itu yang membuat pelanggan tetap setia dan mengantri setiap malamnya, Pak Din membuat masing-masing porsi sangat personal. Ditambah lagi dengan tim kerja yang handal, dan si Fa yang selalu berusaha cekatan dan sigap.
Namun tidak setiap kali si Fa tampak sibuk mengupas kentang atau wira-wiri melayani pelanggan. Kadang ia sempat main dengan anak sebaya yang mungkin teman gang-nya di sekolah. Saya sih melihat si Fa ini tipikal anak yang nurut, gak perlu diperintah dan punya inisiatif, suka tiba-tiba nanya ke Ibu apa kentangnya mau dikupas, atau ada piring kotor yang mau dicuci.
Tahu Tek Pak Din adalah sebuah gambaran usaha keluarga yang sederhana namun ada kehangatan yang terasa. Sang Bapak sebagai komandan, sementara si Ibu sebagai manager operasional dan si Fa sendiri adalah seorang public relation yang handal.
Mungki sekarang Tahu Tek Pak Din masih berupa gerobak dorong, siapa tahu beberapa tahun kedepan si Fa tidak perlu pontang panting dengan tugas yang serabutan. Beberapa tahun lagi mungkin sudah punya kios atau stand, dengan kasir dan mesin hitungnya, hingga tak bingung lagi menghitung kembalian.





wah..jadi penasaran, kapan-kapan tak rono a gok..
errrr….pembeli dengan kerumitan tinggi itu bikin aku ngakak sekaligus gantung diri di pohon cabe =))
besok nyoba ah…awas aja klo tutup
demi appaaa guh mengartiskan fa di blogmu??? @,@
etapi kekmana klo kpn2 kita cangkruk di situ yuuukkk,, skalian deh mauk balikin helm *eh
mayan grobagnya bisa dipandang2 ada foto jastin beyber nya,,,
Dulur-dulur sadayana, Tahu Tek Cak Din kalo pas gerimis mengundang macam sekarang biasanya ngiup di pelataran Giant, sekian.
Regards
Corporate Communication Officer
hmmmm….fa si penurut
hahahaha seru deh liputannya, ntar pas pulang Natalan aku mau mampir ke tahu tek pak Din, deket rumah jg sih ….thanks ya infonya sungguh menggugah selera!